Category: Resensi


BRANDAL-BRANDAL CILIK (2012)

Mendengar rumah produksi Maxima akan membuat sebuah film keluarga berjudul ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ sempat membuat saya terhenyak. Karena, selama ini Maxima lebih “setia” di genre horor atau komedi dengan bumbu seks yang memang laris di pasaran.

Ketika trailer-nya beredar, saya masih belum antusias. Bahkan, saya langsung berpikir film arahan Guntur Soeharjanto itu akan menjiplak film India yang berjudul ‘Chillar Party’.

Namun, ternyata prasangka negatif saya salah. Pertama, Maxima memang mau melebarkan sayap dengan membuat film yang tidak melulu menjual horor dan aksesoris bumbu seks untuk meraup keuntungan. Kedua, ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ merupakan adaptasi dari novel Achmad S yang terbit pada 1973.

‘Brandal-Brandal Ciliwung’ bercerita mengenai persahabatan anak-anak yang tinggal berdekatan dengan kali Ciliwung di pinggiran Jakarta. Ada Jaka (Endy Arfian) yang merupakan anak betawi asli, Tirto (Aldy Rialdy) yang berambut kriwil, Raja (M. Syafikar) yang berdarah batak, Umar (Sehan Zack) yang berdarah Arab, serta Timur (Julian Liberty) yang berasal dari daerah timur Indonesia.

Di tengah persahabatan lima bocah yang berkeliaran di bantaran Sungai Ciliwung itu muncul Sissy (Gritte Agatha) yang berdarah Tionghoa. Persahabatan, konflik dengan geng lainnya, serta hubungan keluarga yang dialami masing-masing bocah menjadi menu utama sepanjang 105 menit.

Persahabatan para bocah coba digarap sang sutradara sebagai contoh bahwa perbedaan warna kulit dan suku tidak menghalangi untuk saling toleransi, sikap yang akhir-akhir ini hanya menjadi teori dalam kehidupan berbangsa. Kebersamaan tersebut menjadi sebuah pesan yang kuat bagi anak-anak yang menonton film ini.

Sayangnya sang sutradara dan penulis skenario yang mengadaptasi dari novel tidak menambahkan bumbu-bumbu yang lebih menarik untuk mengundang gelak tawa atau permainan rakyat yang menjadi khas Indonesia.

Begitu juga karakter personal yang ditampilkan dari 5 sosok bocah yang menjadi tokoh sentral sepanjang cerita. Meski tidak bisa dibandingkan dengan film ‘Laskar Pelangi’, namun tidak ada tokoh kuat yang muncul seperti Aray yang ‘legendaris’.

Barisan pemeran pendukung, dari Ira Wibowo, Lukman Sardi, Hengky Solaiman hingga Olga Lydia tampil elegan dalam mewarnai penokohan di film ini. Terlebih Ira Wibowo yang mampu menjelma menjadi sosok perempuan Betawi yang meyakinkan dan enak didengar dengan dialek-dialek yang keluar dari mulutnya.

Secara keseluruhan, ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ menjadi sebuah film yang cukup baik sebagai tontonan keluarga, terutama untuk anak Indonesia yang selama ini hanya menonton sinetron di TV.

Apresiasi khusus saya berikan kepada Guntur Soeharjanto yang keluar dari spesialisasinya, film-film komedi romantis. Begitu juga kepada rumah produksi Maxima yang mau keluar dari pakem film-film komedi berbau seks dan film horor klise ala Indonesia.

‘Brandal-Brandal Ciliwung’ menjadi miniatur potret keberagaman Indonesia yang menggambarkan bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan penghalang dalam membangun sebuah bangsa. Selamat menonton!

Tulisan ini diambil dari review detik.com

http://hot.detik.com/movie/read/2012/08/27/105558/1999622/218/-brandal-brandal-ciliwung–miniatur-potret-keberagaman-indonesia

Iklan

THE AMAZING SPIDERMAN (2012)

Notes: Tulisan ini diambil dari review Republika.co.id
Link : http://www.republika.co.id/berita/senggang/review-senggang/12/07/20/m7ghth-the-amazing-spiderman-nuansa-komik-yang-lebih-kental-dari-marc-webb

Nuansa Komik yang Lebih Kental dari Marc Webb

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA
Oleh John Tirayoh/Wartawan Film

Sony Pictures mencoba kembali buktikan bahwa mereka memang pantas memproduksi franchise superhero Spider-Man.

Sukses memanjakan pecinta dan penggemar Spider-Man di tiga film sebelumnya, Sony Pictures menghadirkan sesuatu yang baru pada Spider-Man. Tidak tanggung-tanggung, sesuatu yang baru itu ditampilkan lewat dua peran penting dalam film. Yakni sang pemeran utama dan sutradara.

Kali ini tidak akan ada Tobey Maguire yang sudah begitu familiar mengenakan kostum manusia laba-laba buatan komik marvel. Perannya digantikan pemain muda bernama Andrew Garfield.

Tidak hanya Tobey Maguire, posisi sutradara Sam Raimi yang sukses membesuttrilogy Spider-Man sebelumnya juga digantikan oleh Marc Webb, seorang sutradara muda yang mencuri perhatian Hollywood lewat film “500 Days of Summer”.

Penonton seketika itu terhentak dengan keputusan berani Sony Pictures.

Pihak Sony Pictures memang selalu “nyeleneh” ketika memilih sutradara untuk Spider-Man. Sebelumnya, ketika Sam Raimi ditunjuk menjadi sutradara juga membuat pengamat film dan pecinta Spiderman “bengong”. Pasalnya, Raimi sebelumnya lebih sering bermain di genre horor atau thriller.

Lalu, akan seperti apakah Spider-Man yang coba dimunculkan Marc Webb? Apakah sama dengan Spider-Man sebelumnya?

The Amazing Spiderman versi Marc Webb dibuka dengan latar belakang kenapa Peter Parker ditinggal orang tuanya dan tinggal dengan Bibi May (Selly Field) dan Paman Ben (Martin Sheen), hingga Peter Parker duduk di sekolah menengah tingkat atas.

Di tahapan ini, Marc Webb dan penulis skenario James Vanderbilt lebih menonjolkan sosok Peter Parker yang lebih pintar dan jenius dibanding Peter Parker versi Sam Raimi. Tentunya tetap dengan alur cerita menggemari fotografi.

Untuk membuat menarik, muncullah sosok Gwen Stacy (Emma Thompson) yang menjadi pacar Spider-Man sebelum Mary-Jane Watson, sosok perempuan pintar anak Kapten George Stacy (David Leary) yang menjabat kepala polisi New York.

Tak ada musuh utama tentu akan membuat film ini jadi “garing”. Maka dimunculkanlah The Lizzard sebagai tokoh antagonis yang menjadi lawan utama Spider-Man.

The Lizzard diperankan oleh Rhys Ifans yang dalam kesehariannya seorang ilmuwan ternama bernama Dr. Curt Connors. Tempat bekerja Dr. Curt Connors adalah Perusahaan Oscorp yang merupakan perusahaan dari Norman Osborn (kelak akan jadi lawan Spiderman dengan julukan Green Goblin).

Dalam The Amazing Spider-Man, Marc Webb tentu berpikir keras bagaimana menyaingi Spider-Man ala Sam Raimi yang telah terbukti sukses membuat jatuh cinta para pecinta Spider-Man. Marc Webb juga harus mampu menciptakan sosok baru Peter Parker.

Dari sisi penokohan Peter Parker, Marc Webb terlihat mencoba “patuh” pada pakem komik Spider-Man yang diciptakan Stan Lee. Sosok Peter Parker dibuat lebih pintar, jenius, humoris, berbeda dengan versi Sam Raimi yang lebih polos dan lebih “innocent”.

Sedang untuk karakter Spider-Man, Marc Webb menampilkan Spider-Man dalam balutan kostum baru yang lebih dinamis dengan perpaduan warna lebih kelam dibanding kostum yang dipakai Tobey Maguire.

Setelah karakterisasi selesai, Marc Webb juga membuat perbedaan dalam sisi yang kerap membuat penonton terkagum-kagum, apalagi kalau bukan action (aksi) melompat gedung.

Bisa dikatakan, Spider-man versi Marc Webb lebih entertaining dibanding aksi-aksi Spider-man versi Sam Raimi. Spider-Man milik Webb lebih lentur dan tampil dengan gaya yang berbeda. Di banyak adegan, Marc Webb mampu menghadirkan si manusia laba-laba begitu mirip dengan gambar-gambar yang ada di halaman komik Spider-Man.

Disinilah kelebihan sutradara Marc Webb dalam membesut kisah Spider-Man.

Hanya saja, Marc Webb sepertinya terhipnotis oleh gaya dan alur penceritaan dari tiga film Spider-Man sebelumnya. Beberapa pakem dan gaya bertutur The Amazing Spider-Man masih sama dengan film Spider-Man sebelumnya.

Mencuri perhatian adalah Rhys Ifans yang berperan sebagai The Lizzard/Dr. Curt Connors. Rhys Ifans tampil begitu “charming” dan memesona. Padahal, bukan tipe dan gaya Rhys Ifans memerankan seorang ilmuwan. Lihat saja aktingnya saat berperan sebagai Spike dalam film “Notting Hill”.

Anda yang ingin tahu seperti apa sosok legenda Stan Lee yang menciptakan begitu banyak super-hero dalam komik Marvell ikut hadir sebagai cameo. Tidak seperti kemunculan cameo dalam film-film hollywood kebanyakan, Stan Lee muncul di tengah satu adegan seru yang juga mengundang gelak tawa.

Secara keseluruhan, manusia Laba-laba versi Marc Webb tampil sebagai sosok yang lebih labil, ditambah adegan drama menyentuh, serta gaya konyol seorang Spider-man yang tetap membawa ransel sekolah meski sudah memakai kostum Spider-man. Tidak hanya itu, Spider-man yang masih ababil menunggu musuh dengan memanfaatkan fitur games pada sebuah telepon selular.

Acungan jempol juga dapat disematkan kepada composer James Horner yang mengisi scoring. Adegan Perkelahian di sebuah gang kumuh, menjadi begitu menarik dengan alunan komposisi musik yang begitu hidup. Scoring the Amazing Spider-Man jauh lebih hidup dibanding tiga film sebelumnya.

The Amazing Spider-Man sendiri menyisahkan satu adegan pendek yang muncul di akhir film. Pastikan anda jangan langsung beranjak ketika credit title muncul. Adegan tersebut bisa menjadi kunci petunjuk apabila film ini akan dibuat lanjutannya.

Adegan tersebut akan membuat anda menebak-nebak siapa yang muncul dalam film lanjutannya, apakah The Shadow atau si Green Goblin/ Norman Osborn ?

Selamat Menyaksikan.

Notes: Tulisan ini diambil dari review detik.com
Link : http://hot.detik.com/movie/read/2012/07/20/150242/1970631/229/18—forever-love-pelajaran-tentang-menjadi-dewasa

Pelajaran Tentang Menjadi Dewasa

Jakarta – Umur 18 tahun tentunya sudah bisa dimaknai menjadi orang yang dewasa. Namun, apakah semua yang sudah berumur 18 tahun akan menjadi orang yang dewasa? Tentu tidak, karena kedewasaan lebih diukur dari perilaku dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Untuk film ’18++ Forever Love’, itulah kira-kira yang ingin digambarkan oleh Nayato Fio Nuala. Sebuah kisah seorang remaja yang menginjak usia 18 tahun. Adalah Kara (Adipati Dolken) yang genap berusia 18 tahun. Kara yang tadinya hidup bagaikan anak konglomerat terhenyak ketika fasilitas kemewahan yang selama ini didapatnya harus hilang. Opa Kara (Roy Martin) menarik semua fasilitas tersebut, karena di sinilah Kara harus memulai hidupnya yang beranjak dewasa.

Kara yang tadinya bergelimang uang mendapati dirinya jadi miskin mendadak. Sang remaja akhirnya berpikir untuk lari dari lingkungan teman-temannya yang borjuis dan memulai sesuatu yang baru. Dengan sedikit sentuhan cerita dijambret, Kara akhirnya bertemu seorang gadis cantik bernama Mila (Kimberly Ryder) yang membantunya.

Mila membantu Kara dengan sepenuh hati. Tidak tanggung-tanggung, Kara mendapat persetujuan oleh Ibu Milla (Keke Soeryo Renaldi) dan adik kecil Mila yang bernama Sasi (Reska Tania) untuk tinggal sementara bersama.

Mila sangat bertolak belakang dengan Kara. Milla merupakan gadis yang dewasa secara tindakan dan bertanggung jawab. Perjalanan film akhirnya memperlihatkan bahwa Kara belajar mengenai arti kedewasaan dari sosok Mila. Untuk menambah bumbu, Kara dan Mila saling jatuh hati.

Dan, untuk membuat semakin dramatis, ada persoalan yang ditutup-tutupi Mila mengenai kondisi kesehatannya.

Mitosnya, apabila yang muncul di poster film ditulis Nayato Fio Nuala (bukan Koya Pagayo atau Pingkan Utari) maka film tersebut akan lebih serius. Namun, ternyata, dibandingkan dengan drama remaja romantis yang pernah diciptakan oleh Nayato, seperti ‘Cinta Pertama’ atau ‘The Butterfly’, film ini terasa hambar dan begitu bias.

Hambar, karena cerita yang dipakai terlalu sering hadir dalam kisah percintaan romantis yang kita temui dalam genre yang sama. Bias, karena begitu banyak kebetulan dan pemakluman yang hadir untuk memaksakan alur cerita. Adegan bagaimana pertemuan Kara dan Mila butuh sebuah cerita yang pas. Namun, yang terjadi, tiba-tiba dengan mudahnya Kara bisa tinggal di rumah Mila, itu terlalu tidak masuk akal.

Presisi tempat juga mengganggu. Opa Kara yang diperankan Roy Martin diceritakan tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan Mampang, Jakarta-Selatan. Tapi semua orang yang bisa mengetahui bahwa latar rumah tersebut adalah pemandangan indah yang tidak mungkin ada di wilayah mana pun di Jakarta.

Alur cerita yang dibuat oleh Cassandra Massardi banyak yang terlalu dipaksakan. Dibandingkan beberapa film seperti ‘Purple Love’, ‘Tarix Jabrix 3’, atau ‘Get Merried’ 2 dan 3, film ’18++ Forever Love’ merupakan kemunduran penulisan cerita yang dibuat Cassandra.

Namun, Nayato Fio Nuala dengan pengambilan gambar yang khas, dengan pemilihan lokasi syuting cukup enak dipandang mata. Satu hal lagi yang menyelamatkan film ini adalah akting Roy Martin sebagai aktor kawakan Indonesia. Meski hanya peran pendukung, Roy Martin seakan mengajarkan kepada Adipati Dolken, Kimberly Ryde, serta pemeran muda lainnya, bagaimana cara akting.

’18++ Forever Love’ mempunyai benang merah untuk menunjukkan kepada generasi muda yang beranjak dewasa akan tanggung jawab menjadi orang yang dewasa dalam mengarungi hidup ke depan. Dengan contoh, bahwa kehidupan dewasa itu bukanlah mengandalkan harta orangtua atau sekeliling kita untuk hidup. Kedewasaan itu adalah tanggung jawab kita untuk menentukan arah hidup kita ke depan nantinya.
John Tirayohwartawan film
(mmu/mmu)


Ketika Hollywood Ingin Bapak Bangsa-nya Jadi Pemburu Vampir

Bagi anda yang bertanya-tanya, apakah Abraham Lincoln yang dimaksud dalam film ini adalah Presiden Amerika yang ke 16, maka jawabannya adalah benar. Abraham Lincoln di film ini tidak hanya berjuang menghapus perbudakan. Namun juga ikut memburu para vampir yang berkeliaran di jaman tersebut.

Hollywood sudah bosan bagaimana Blade, Van Helsing, atau si cantik Buffy untuk memburu para vampir yang berkeliaran diantara manusia. Maka, dengan hadirnya novel Abraham Lincoln: Vampire Hunter, langsung diserobot oleh rumah produksi 20th Century Fox untuk diangkat ke layar lebar.

Kisahnya sederhana. Abraham Lincoln saat kecil menyaksikan bahwa salah-satu anggota keluarganya harus menjadi korban vampir yang hadir di sekeliling masyarakat. Semenjak itu Abraham Lincoln, menjadikan vampir targetnya untuk membalaskan dendam.

Abaraham Lincoln dewasa (Benjamin Walker) akhirnya bertemu Henry Sturgess (Dominic Cooper) yang juga ingin membantai para vampir. Dengan itu, Abraham Lincoln sembari terus meraih mimpinya untuk jadi pengacara (kelak turun ke dunia politik) terus bersama Henry memburu para vampir.

Puncaknya adalah ketika Abraham Lincoln yang menjadi Presiden Amerika Serikat ke 16, tetap harus berhadapan dengan klan vampir yang dipimpin oleh Adam (Rufus Sewell). Dengan kisah sejarah perang saudara Amerika (1861-1865) yang terjadi saat Abraham Lincoln berkuasa, perang antara Abraham Lincoln dan vampir pimpinan Adam juga makin panas.

Film yang disutradarai oleh Timur Bekmambetov (sebelumnya telah membesut film Wanted) memang unik dari beberapa film yang bercerita tentang vampir. Terlebih ketika melibatkan Abraham Lincoln yang acap kali disebut salah-satu Bapak Bangsa Amerika Serikat.

Untuk menambah menarik film ini, beberapa peristiwa besar dalam sejarah seperti Perang Saudara Amerika seakan-akan sangat berhubungan erat dengan pertarungan kaum manusia dengan para vampir.

Bayangkan saja, peristiwa besar Gettysburg digambarkan dalam film ini ada kaitan erat dengan keikut-sertaan para vampir. Sekedar informasi, Pertempuran Gettysburg dalam sejarah perang saudara Amerika, merupakan klimaks dari perseteruan para tentara Union dan tentara konfederasi yang bertikai.

Tentara Union yang mendukung kebijakan Abraham Lincoln untuk menghapus perbudakan berhasil memenangkan pertempuran Gettysburg, yang akhirnya menyebabkan tentara konfederasi menyerah. Hubungannya dalam film ini, ada satu poin dimana, pertempuran tersebut melibatkan para vampir dan pemburu vampir.

Sebagai sebuah film fiksi, Abraham Lincoln: Vampire Hunter, menjadi film yang menghibur dengan balutan beberapa peristiwa penting dalam sejarah Amerika (Khususnya pada era kepemimpinan Abraham Lincoln)

Penulis skenario Seth Grahame-Smith dan Timur Bekmambetov bebas saja menyajikan imajinasi mereka terhadap sosok Abraham Lincoln dengan embel-embel pemburu vampir. Mereka membuat sang Presiden menjadi tokoh yang juga mahir mengayunkan kampak dalam membasmi para Vampir.

Dengan beberapa adegan mengagetkan ala film Scream, adegan konyol, dan visual efek khas hollywood, Abraham Lincoln: Vampires Hunter menjadi keren dan nyeleneh. Walaupun tetap menjaga kharisma Abraham Lincoln yang sesungguhnya agar tak membuat publik Amerika marah.

Secara keseluruhan, film ini cukup menghibur dengan sedikit kreatifitas baru ketika melibatkan seorang tokoh politik besar (Pahlawan Bangsa) yang dipadukan dengan kisah sebagai pemburu vampir. Itulah hollywood. Mereka bisa menjadikan tokoh besar seperti Abraham Lincoln yang tidak hanya menjadi politisi dengan karir sebagai Presiden. Tapi juga bisa diutak-atik sebagai pemburu Vampir.

Bintang: ***(3/5)

Bahasa : Inggris
Produksi Negara : Amerika Serikat
Genre : Action, Fantasy
Klasifikasi Penonton : Dewasa (17 Tahun)
Durasi : 105 Menit
Tayang Int;l : 22 Juni 2012
Tayang Ind : 20 Juni 2012
Rumah Produksi : Tim Burton Productions & 20th Century Fox
Distributor : 20th Century Fox
Sutradara : Timur Bekmambetov
Penulis Skenario : Seth Grahame-Smith
Naskah Asli/Novel : Seth Grahame-Smith

Pemeran
Benjamin Walker : Abraham Lincoln
Dominic Cooper : Henry Sturgess
Anthony Mackie : Will Johnson
Mary Elizabeth Winstead : Marry Todd Lincoln
Rufus Sewell : Adam
Marton Csokas : Jack Barts
Jimmi Simpson : Joshua Speed
Erin Wasson : Vadoma

SOEGIJA (2012)

Kegagalan Garin Membangun Identitas Soegija

Ketika mengetahui Garin Nugroho membuat film Soegija, saya begitu antusias. Nama besar Garin Nugroho dalam lingkup penggiat film nasional begitu besar di mata saya. Garin merupakan sutradara papan atas yang selalu menghasilkan film-film nasional yang berkualitas.

Film Soegija sendiri berdasarkan kisah perjuangan seorang Uskup pribumi pertama Indonesia yang bernama lengkap Soegijapranata. Seorang Romo yang berperan turut membanti proses kemerdekaan Republik Indonesia. Diceritakan dalam film ini akan fokus menceritakan peran Soegijapranata dalam rentang waktu tahun 1940 hingga 1949.

Untuk mendukung cerita tersebut, Garin membangun karakter fiksi seperti, Robert (Wouter Zweers), Mariyem (Annisa Hertami), Hendrick Van Maurick (Wouter Braaf), Nobuzuki (Nobuyuki Suzuki), Lantip (Rukman Rosadi), Besut (Margono), dan juga bocah cilik Lingling (Andrea Reva) yang menjadi pendukung filmSelain itu, tokoh Koster Toegimin (Butet Kertarajasa) berperan sebagai pembantu Romo Soegijapranata.

Bentuk perjuangan Soegijapranata digambarkan lewat diplomasi, turun langsung ke basis-basis rakyat yang menderita karena perang, hingga berani dan lantang harus berhadapan dengan komandan militer Jepang, yang ingin menguasai Gereja untuk dijadikan Markas Militer.

Soegijapranata harus meneteskan air mata kala dirinya tak mampu berbicara banyak, melihat para warga asing yang mengabdi untuk Gereja, harus digiring menjadi tawanan oleh militer Jepang. Hingga pada akhirnya, Soegijapranata mempunyai peran besar dalam memainkan perannya di tingkat Internasional. Vatican yang merupakan sentrum dari Gerja Katholik mendukung kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun proses Kemerdekaan dan tindakan kemanusiaan yang dilakukan Uskup Soegijapranata yang digambarkan oleh Garin Nugroho dan Armantano, terlihat biasa saja. Langkah-langkah Soegijapranata yang seharusnya lebih detail dan lebih menarik tidak terjadi dalam film ini. Garin Nugroho gagal mengeksplorasi hal tersebut. Saya tidak mendapatkan sesuatu yang istimewa dalam sosok Soegijapranata versi Garin Nugroho.

Garin justru sibuk dengan kisah Mariyem dan Robert, kisah Hendrick yang berperan sebagai serdadu Belanda yang antagonis, Kisah Nobuzaki komandan Jepang yang murung dan tak tiba-tiba justru menyanyi tak jelas ketika berhadapan dengan pejuang Republik, atau kisah Lingling si bocah yang terlalu dewasa untuk ukuran anak umur sepuluh tahun.

Beruntung film ini tidak jadi begitu monoton lewat peran Koster yang konyol atau bocah-bocah tanggung republiken yang mampu menghadirkan gelak tawa. Karakterisasi mereka mampu menggambarkan situasi yang terjadi di Indonesia saat itu di kalangan rakyat bawah.

Identitas Seogijapranata justru tidak berhasil dikembangkan Garin Nugroho karena jadi seimbang dengan kisah-kisah fiktif yang hadir lewat karakter lainnya. Garin Gagal membangun karakter Soegijapranata seperti Steven Spielberg membangun karakter Oskar Schindler lewat film Schindler’s List.

Namun, selipan pesan yang dibuat Garin Nugroho dan Armantano sangat cerdas dan menohok kekinian Indonesia. Selipan pesan tersebut mampu menjadi refleksi atas kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini. Pesan-pesan tersebut harusnya bisa terpatri bagi para pejabat atau tokoh politik yang bertanggung-jawab atas terpuruknya Indonesia sekarang.

Terlebih, saya menyukai bagaimana Garin mencoba sedikit menyelipkan kisah pejuang Tan Malaka lewat sebuah dialog singkat. Dialog yang menghadirkan perjuangan kisah Tan Malaka tanpa henti dan harus berpindah-pindah negara tapi hatinya seratus persen untuk Indonesia.

Selain Dialog, detail perlengkapan dan setting tempat menjadi acungan jempol untuk Garin Nugroho. pernak-pernik perabotan serta pemilihan tempat dalam adegan yang harus dilakukan diluar ruangan begitu real dan menggambarkan Indonesia dalam kisah kemerdekaan saat itu.

Tampilan sinematografi senja saat pejuang Republik berjalan saat senja juga terlihat begitu indah. Kualitas sinematografi dan visualisasi dalam film Soegija begitu apik dan enak dipandang mata.

Berbicara akting para pemain, para pendukung film ini tampil mengesankan. Mulai dari Nirwan Dewanto hingga bocah tanggung yang tidak bisa membaca memberikan sajian akting yang mumpuni. Mulai dari adegan menangis Nirwan Dewanto, Wouter Braaf yang mewakili arogansi serdadu Belanda, Wouter Zweers yang protagonis, serta konsistensi gaya Margono ketika memerankan sosok Pak Besut sang penyiar radio, yang sekaligus menjadi narator untuk peristiwa politik yang terjadi.

Secara Keseluruhan, Film Soegija telah menambah koleksi film sejarah nasional Indonesia. Beruntung ada Garin Nugroho yang mau memberikan kontribusi untuk menambah koleksi film sejarah. Pesan Kemanusiaan hadir dari setiap tokoh meski berbeda pandangan politik dan juga kewarga-negaraan serta etnis. Soegija harus menjadi refleksi kepada para pejabat publik akan perjuangan yang telah dilakukan para nenek moyang kita.

Film Seogija menambah wawasan dan pengetahuan kita akan sosok Soegijapranata yang mempunyai andil dalam proses kemerdekaan Indonesia. Meski kritik saya, Garin Nugroho gagal membangun identitas ketokohan Soegijapranata dalam 115 menit visualiasi gambar yang diberikan. Selamat Menonton.

BINTANG : *** (3/5)

SOEGIJA
Bahasa : Indonesia
Produksi Negara : Indonesia
Genre : Sejarah, Drama
Klasifikasi Penonton : Remaja
Durasi : 1 jam 55 Menit
Tayang Indonesia : 7 Juni 2012
Rumah Produksi : Puskat Pictures
Distributor : Puskat Pictures
Sutradara : Garin Nugroho
Penulis Skenario : Garin Nugroho & Armantanto

Nirwan Dewanto : Albertus Soegijapranata
Annisa Hertami Kusumastuti : Mariyem
Wouter Braaf : Hendrick
Wouter Zweers : Robert
Andrea Reva : Lingling
Nobuyuki Suzuki : Nobuzuki
Margono : Pak Besut
Butet Kertarajasa : Koster Toegimin
Olga Lydia : Ibu Lingling
Rukman Rosadi : Lantip
Marwoto : Penjual Jamu
Muhammad Abbe : Maryono
Cahwati : Ciprit
Andriano Fidelis : Banteng
Henky Solaiman : Kakek Lingling
Landung Simatupang : Pak Lurah
Cor Van Der Kruk : Mgr Willekens
Eko Balung : Suwito
Soca Ling Respati : Prajurit Kecil

Sumber Pemeran id.wikipedia.org
Link: http://id.wikipedia.org/wiki/Soegija

Link POSTER BESAR SOEGIJA: https://coretanfilm.files.wordpress.com/2012/06/poster-soegija-besar.jpg

Link TRAILER FILM SOEGIJA: https://coretanfilm.wordpress.com/2012/05/14/soegija-film-terbaru-garin-nugroho/

PROMETHEUS (2012)

Ketika Manusia Mencari Pencipta-nya

Judul ulasan film yang saya buat mungkin membuat anda mengerinyitkan dahi. Semua yang pernah menonton trailer Prometheus sepakat bahwa ini adalah film sains-fiksi yang dibalut dengan ketegangan dalam setiap adegannya. Tapi sebelum membahas maksud dari judul yang saya buat, kiranya saya akan memulai premis dari Prometheus.

Prometheus dimulai dengan ekspedisi yang dilakukan oleh sekumpulan ilmuwan menuju sebuah planet yang tak dikenal. Alasan utama mereka, berdasarkan relik-relik dari suku Inca, Mesopotamia, Mesir Kuno, dan lain-lain yang mengambarkan suatu simbol yang sama. Ilmuwan seperti Elizabeth Shue (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green), percaya bahwa simbol yang ditulis dahulu kala (mungkin) akan menunjukan siapa pencipta manusia.

Tanpa basa-basi, sampailah sekumpulan ilmuwan dengan keahlian masing-masing ke planet sepi tersebut. Isi Planet begitu sepi dan terkesan angker untuk dieksplorasi. Ekspedisi luar angkasa tersebut dibiayai oleh Peter Weyland (Guy Pearce) seorang jompo kaya-raya yang telah meninggal dunia. Ekspedisi secara komando dipimpin oleh Meredith Vickers yang mewakili Peter Weyland.

Selanjutnya plot yang berkembang adalah ketegangan yang muncul menghantui para ilmuwan. Planet Sepi tersebut tidaklah ramah. Ketegangan-pun mulai muncul hingga klimaks film berakhir.

Film sains-fiksi yang menjual ketegangan di mata penonton ini disutradarai oleh Ridley Scott. Sutradara yang pernah sukses menelurkan film Alien tahun 1979 silam. Alien bisa digambarkan sebuah film thriller sains-fiksi tersukses yang pernah dibuat. Kalau George Lucas mempunyai master-pieceStar Wars dan Steven Spielberg dengan ET atau Indiana Jones, maka Alien merupakan master-piece dari Ridley Scott.

Ridley Scott sendiri akhir-akhir ini kurang menghasilkan film berkualitas pasca membesut Black Hawk Down atau Kingdom of HeavenRobin Hood, Body of Lies, serta American Gangster yang dibuatnya seperti hanya selewatan hadir di bioskop-bioskop. Berbeda saat tahun 80-an dan 90-an ketika Ridley Scott berhasil menyihir penonton bioskop dengan menghadirkan Blade Runner, Thelma & Louis, G.I. Jane, serta Gladiator yang menyabet banyak penghargaan Oscar.

Lewat Prometheus, Ridley Scott ingin mengulangi kejayaan film Alien yang dibintangi Sigourney Weaver. Dengan Prometheus, Ridley kembali ke ranah sains-fiksi dengan thriller yang menghantui penonton selama 124 menit.

Saat pembuatan Prometheus, rumor bahwa ini merupakan prekuel dari Alien sudah gencar digembar-gemborkan. Apakah dalam Prometheus, Ridley Scott ingin mengungkap kisah asal-muasalAlien? tentunya jadi pertanyaan besar saat anda menyaksikan film ini.

Kisah Prometheus dan Alien hampir banyak kesamaan. Alien diwakili oleh sosok Ellen Ripley danPrometheus diwakili oleh Elizabeth Shaw. Sosok Ripley dan Shaw menjadi sosok sentral utama selama film berlangsung.

Membandingkan ketegangan antara Alien dan Prometheus, nampaknya Alien masih mengungguli dari segi orisinalitas dan kreatifitas ketegangan. Prometheus meski membuat jantung anda berdetak cepat, namun ketegangannya hampir sama dengan film-film thriller sains-fiksi lainnya yang sudah menjiplak ketegangan Alien.

Tidak ada ide baru yang ditampilkan oleh Ridley Scott untuk dijual ke penonton. Hanya ada satu adegan bagaimana Noomi Rapace harus berjuang keras dalam sebuah kapsul yang nantinya menguji anda apakah akan menutup mata atau bertahan melihat sebuah proses yang mengerikan dan tentunya menegangkan.

Salah-satu kelebihan dari Prometheus, dialog-dialog yang diciptakan oleh penulis skenario Jon Spaihts dan Damon Lindelof tidak monoton meski begitu banyak istilah sains yang dihadirkan. Dialog cerdas antara peran yang satu dan lainnya terlihat natural dengan guyonan ala ilmuwan yang berkelas dan tidak terlihat kacangan.

Berbicara akting pemain, Noomi Rapace meski sudah kursus kilat dengan pelatih aksen Inggris, tetap tidak tampil istimewa sebagai tokoh sentral. Membandingkan dengan Sigourney Weaver dalam filmAlien, Noomi Rapace masih kalah kelas.

Charlize Theron dan Idris Elba juga tampil biasa saja. Tidak ada yang spesial untuk dialog-dialog yang mereka perankan. Theron dan Elba memang hanya pendukung dalam film ini. Peran unik justru didapat Michael Fassbender yang harus menjadi robot dengan sosok manusia. Karakter Fassbender tersebut mengingatkan kita akan sosok robot bernama DATA dalam mini-seri televisi Star-Trek yang ngetop pada periode 90-an awal.

Guy Pearce yang berperan sebagai Peter Weland dengan make-up kakek tua tidak ada yang spesial. Untuk apa sosok Guy Pearce harus berperan sebagai kakek jompo. Pearce yang “macho” justru lebih tepat berperan sebagai Halloway yang menjadi partner dari Noomi Rapace. Entah apa yang ada dalam pikiran Avy Kaufman (Casting Director) yang sudah jempolan menangani film-film besar hollywood untuk memilih Guy Pearce untuk peran Peter Weland.

Avy Kauffman seakan mengulangi kesalahannya ketika Angelina Jolie tidak pas memerankanEvelyn Salt atau saat memilih Norah Jones memerankan Elizabeth serta Jude Law memerankanJeremy dalam film My Blueberry Nights.

Visualisasi 3D yang hadir dalam Prometheus akan anda sangat nikmati di 30 menit film ini berlangsung. Ridley Scott tidak mau ketinggalan dengan sutradara top hollywood lainnya, yang menambah nilai jualan film lewat efek 3D. Sinematografi planet sepi saat pesawat angkasa mengudara dan penggambaran pegunungan planet akan memanjakan mata anda lewat kaca-mata 3D.

Secara keseluruhan, Prometheus tetaplah merupakan film yang wajib ditonton bagi anda penggemarthriller sains-fiksi. Ridley Scott tetap mampu menyihir anda selama film berlangsung. Anda yang rindu akan ketegangan ala Alien akan menemukan romantisme dalam Prometheus.

Pesan akan manusia yang menggunakan akal-sehatnya untuk mencari sosok pencipta-nya dibuat tidak satir dan tak menggurui, baik anda yang mempercayai agama dan berpikiran bebas. Prometheushadir dengan ketegangan yang diam tanpa harus mengageti penonton ala film remaja seperti Screamatau Urban LegendPrometheus hadir dengan nalar dan logis untuk membuat anda merasakan adrenalin yang tinggi. Selamat menonton !

Bahasa : Inggris
Produksi Negara : Amerika Serikat
Genre : Sains-fiksi, Thriller, Aksi
Klasifikasi Penonton : Dewasa (17 Tahun)
Durasi : 124 Menit
Tayang Int;l : 30 Mei 2012
Tayang Ind : 6 Juni 2012
Rumah Produksi : Scott Free Productions
Distributor : 20th Century Fox
Sutradara : Ridley Scott
Penulis Skenario : Jon Spaihts & Damon Lindelof

Pemeran
Noomi Rapace : Elizabeth Shaw
Michael Fassbender : David
Charlize Theron : Meredith Vickers
Idris Elba : Janek
Logan Marshall-Green : Charlie Holloway
Sean Harris : Fifield
Kate Dickie : Ford
Rafe Spall : Millburn
Guy Pearce : Peter Weyland
Patrick Wilson : Shaw’s Father

http://www.seruu.com/entertainment/film-a-sinetron/artikel/ulasan-film-prometheus-ketika-manusia-mencari-pencipta-nya

Dongeng Putri Salju Yang Kelam Nan Penuh Aksi

Pakem kisah Putri Salju yang diciptakan oleh Brother Grimm (Jakom & Wilhelm) yang menciptakan kisah Snow White tidak akan anda temui dalam SWTH (Snow White and The Huntsman). Tidak akan anda lihat Putri Salju bernyanyi riang dengan kostum baju biru dan rok lebar seperti dalam kisah Putri Salju versi Disney.

Anda tidak akan melihat Putri Salju ditipu Ratu Ravenna yang jahat menyamar di Pasar lalu memberikan Apel racun  dan membuat Putri Salju tertidur selamanya. Tidak juga ada adegan Putri Salju bersama tujuh kurcaci tinggal di hutan dengan penuh riang dan canda.

Pangeran Ganteng yang bersih layaknya bangsawan tidak juga anda dapatkan dalam film ini. Adegan Pangeran Putri Salju seperti dalam kisah Brother Grimm telah dirombak habis-habisan oleh penulis skenario Evan Daugherty yang menulis naskah film.

Bahkan, judul film ini bukanlah Putri Salju dan Tujuh Kurcaci. Melainkan Snow White and The Huntsman.

Kisah Snow White and the Seven Dwarfs Vs Snow White and the Hunstman

Kisah Putri Salju yang kita tahu adalah; Ibu kandung Putri Salju yang juga Ratu Kerajaan, meninggal tak lama setelah Putri Salju lahir. Ayah Putri Salju lalu mempersunting istri baru yang kelak menjadi ibu tiri yang kejam. Kematian Raja membuat Putri Salju tersingkir lalu lari ke Hutan dan tinggal bersama tujuh kurcaci.

Putri Salju lalu harus tertidur panjang, ketika memakan buah apel dari ratu yang menyamar di pasar. Putri Salju tertidur lama sampai datang seorang Pangeran tampan dan menyelamatkannya. Kisah lalu ditutup dengan Perkawinan Putri Salju dan Pangeran dan Ratu Jahat harus tersingkir selamanya.

Tapiiii … Dalam Snow White and the Hunstman cerita itu berubah seperti yang saya ungkapkan dalam paragraf awal tulisan ini.

Kisah SWTH hadir dengan visualisasi gelap dan penuh aksi. Queen Ravenna (Charlize Theron)harus membunuh Snow White (Kristen Stewart) yang selama ini dikurung. Snow White berhasil melarikan diri dan dikejar-kejar oleh Finn (Sam Spruell) yang merupakan saudara kandung Ratu yang juga jahat.

Snow White yang kabur ke Dark Forrest (Hutan Angker yang penuh mistis dan berbahaya) membuat Queen Ravenna dan Finn sulit untuk menangkapnya. Maka, Diutuslah seorang Huntsman (Pemburu) yang mengetahui dan pernah memasuki Dark Forrest.

The Hunstman (Chris Hemsworth) menjadi kaki tangan Ratu untuk menangkap Snow White. Rencana Ratu menjadi berantakan ketika The Hunstmen justru bertindak tidak sesuai keinginan Ratu.

Snow White akhirnya musti berpetualang dan melakukan perjalanan panjang yang berat untuk menemui Duke Hammond (Vincent Regan) yang masih setia kepada mendiang Ayah Snow White dan melakukan pemberontakan kepada Queen Ravenna.

William (Sam Claffin) yang merupakan anak Duke Hammond, berusaha menyelamatkan Snow White karena begitu mencintai Snow White dan merasa bersalah pernah meninggalkan Snow White sewaktu Ratu berkuasa dan membuat seisi Kerajaan menjadi gelap.

Visualisasi yang digambarkan selama film ini berlangsung, menjadi andalan untuk memanjakan penonton. Sutradara Rupert Sanders yang baru pertama-kali menggarap film besar hollywood, mempunyai imajinasinya sendiri untuk menggambarkan dunia Putri Salju.

Visualisasi SWTH seperti Middle Earth dalam film The Lord of the Rings milik sutradara Peter Jackson yang dipadukan dengan trilogi film Narnia. Mulai dari peri-peri kecil yang tinggal di hutan, berbagai macam hewan yang aneh, serta kehadiran Troll raksasa yang siap melumat manusia ketika mengganggu tidurnya.

Terlihat Rupert Sanders memakai template Peter Jackson untuk menjadikan SWTH menjadi sebuah kisah epic fiksi yang menarik. Sehingga mampu membuat penonton terhipnotis menonton kisah Snow White untuk konsumsi orang dewasa ini.

Sayangnya, Rupert Sanders membuat begitu banyak karakter dalam Snow White tapi justru membuat satu karakter dan karakter yang lain terlihat samar. Beberapa kurcaci yang merupakan aktor senior hollywood justru tampil seperti figuran. Peran Lord Hammond yang harusnya mendapat porsi besar justru tampil hanya sekilas-sekilas.

Berbeda dengan Peter Jackson saat menggarap The Lord of the Rings, mampu menghadirkan banyak karakter tapi terlihat semua mendapat porsi yang sesuai dan penonton mampu mengikutinya dengan baik.

Rupert Sanders akhirnya terjebak pada penggambaran karakter yang sesak tanpa mampu memaksimalkan setiap peran yang ada. Terlebih kisah cinta segitiga Snow White yang terkesan nanggung dan tak banyak cerita mengenai cermin yang mampu berbicara.

Pemilihan Peran

Kritik saya juga pada pemilihan peran Charlize Theron dan Kristen Stewart. Charlize Theron dapat dikatakan tidak pas memerankan Ratu iblis yang jahat. Meski harus diakui Theron sudah berusaha maksimal untuk menyelami karakternya.

Sempat awal film ini mau dibuat, perna Queen Ravenna akan diberikan kepada Winona Ryder atauAngelina Jolie. Namun, baik Ryder atau Jolie saya pikir juga akan bernasib sama dengan Theron apabila mereka yang ditugaskan menjadi Queen Ravenna.

Saya justru lebih menyukai apabila peran Ravenna diperankan oleh Michelle Pfeiffer atau Kate Beckinsale yang cantik namun juga mempunyai aura antagonis nan memukau. bahkan secaraextreme saya lebih menginginkan Olivia Wilde yang berperan sebagai Ravenna.

Bagi pecinta Twilight Series tentunya akan menyukai Snow White diperankan oleh Kristen Stewart. Namun, saya menganggap Stewart gagal menghadirkan Snow White dengan cerita kelam nan gelap. Meski effort Stewart terlihat begitu mumpuni untuk menyelami karakter Snow White.

Saya justru lebih memilih peran Snow White lebih pas apabila diberikan kepada Odette Yusman(Cloverfield) yang berwajah innocent namun juga jelita layaknya Putri bangsawan. Vanessa Hudgens (Sucker Punch) atau Maggie Grace (Taken)  juga sepertinya layak untuk masuk nominasi mencoba peran Snow White. Namun, ketenaran Stewart dalam Twilight menjadikannya pilihan nomor satu untuk film ini. Mungkin juga Emma Watson yang berperan sebagai Hermione Ginger dalam epic Harry Potter atau Mila Kunis (Black Swan).

Sekedar informasi, nama Dakota Fanning sempat menjadi nominasi kuat untuk berperan menjadi Snow White.

Titik Balik Chris Hemsworth.

Tidak ada yang mengenal Chris Hemsworth saat terpilih menjadi Thor. Melihat sosok Hemsworth, penonton pasti akan langsung berimajinasi sosok super-hero yang selalu membawa Palu Gada untuk melawan musuh-musuhnya.

Namun hebatnya, Chris Hemsworth mampu berperan menjadi sosok The Huntsman dan membuat penonton tidak ingat akan sosok Thor yang sudah kadung melekat selama ini. Chris tidak terjebakstreotype karakter yang seringkali jadi jebakan hollywood.

Tobey Maguire (Spiderman) dan Daniel Radcliffe (Harry Potter) adalah contoh bagaimana mereka sulit untuk memerankan film lain karena sudah terjebak dan menjadi ikon film yang membuat mereka besar.

Untungnya, Viggo Mortensen dan Hugh Jackman tidak jadi berperan sebagai The Huntsmen. Karakter Aragorn dan Wolverine tentunya sedikit banyak akan berpengaruh pada peran Hunstmen dalam film ini.

Secara keseluruhan Snow White and the Huntsman mampu menghadirkan pakem baru kisah dongeng anak-anak menjadi sebuah tontonan dewasa yang menarik. penggambaran kelam nan penuh aksi merupakan ide brilian untuk disuguhkan kepada penonton.

Snow White and the Huntsman juga seperti mengirim pesan mengenai feminisme. Suatu eksperimen yang baru ketika Snow White yang kita selalu imajinasikan sebagai putri lugu dan baik hati harus memakai baju besi dan berperang ala Joan of Arch yang diperankan Milla Jovovich.

Kelam, penuh aksi, serta visual efek yang memanjakan mata menjadi film Snow White and the Hunstman menjadi salah-satu film papan atas berkualitas di tahun 2012 ini. Selamat menonton.

Bintang: ****(4/5)

Bahasa : Inggris
Produksi Negara : Amerika Serikat
Genre : Adaptasi, Aksi-Petualangan
Klasifikasi Penonton : Dewasa (17 Tahun)
Durasi : 127 Menit
Tayang Int;l : 1 Juni 2012
Tayang Ind : 1 Juni 2012
Rumah Produksi : Universal Pictures
Distributor : Universal Pictures
Sutradara : Rupert Sanders
Penulis Skenario : Evan Daugherty, John Lee Hancock, Hossein Amini
Penulis Asli : Jakob Grimm dan Wilhelm Grimm (Brother Grimm)

Pemeran
Kristen Stewart : Snow White
Charlize Theron : Queen Ravenna
The Huntsman : Chris Hemwsorth
Sam Claflin : William
Sam Spurell : Finn
Ian McShane : Beith
Vincent Regan : Duke Hammond
Bob Hoskins : Muir (Dwarfs #1)
Ray Winstone : Gort (Dwarfs #2)
Nick Frost : Nion (Dwarfs #3)
Eddie Marsan : Duir (Dwarfs #4)
Toby Jones : Coll (Dwarfs #5)
Johnny Harris : Quert (Dwarfs #6)
Brian Gleeson : Gus (Dwarfs #7)
Noah Huntley : King Magnus
Liberty Ross : Queen Eleanor
Christopher Obi : Mirror

 

LOCKOUT (2012)

Ketika Penjara Tidak Lagi di Bumi

Lockout yang merupakan film bersama hollywood dan para sineas Prancis ini sebenarnya hanya menceritakan kisah sederhana. Di masa depan, untuk para kriminal tidak lagi di Bumi, tapi di luar-angkasa. Ada sekitar 500 kriminal kelas kakap yang harus mendekam di penjara luar angkasa tersebut dengan nama MS-ONE.

Lalu apa yang membuat Lockout menjadi menarik ? Yang membuatnya menarik ketika saat Putri Presiden Amerika Serikat, Emilie Warnock (Maggie Grace) berkunjung ke MS-ONE. Di saat kunjungannya tersebut, satu tahanan berhasil membuat semua narapidana lain menguasai Penjara tersebut. Sang Putri Presiden musti terjebak dalam penjara menunggu bala bantuan.

Adalah Snow (Guy Pearce) yang merupakan bagian dari pasukan khusus ditugaskan menyelamatkan sang putri presiden agar tak jatuh ke tangan para narapidana. Snow sendiri sedang dirudung persoalan yang cukup berat. Dalam sebuah operasi rahasia, Snow dijebak dan dituduh mengkhianati Negara.

Selain harus menyelematkan Putri Presiden, Snow mempunyai misi khusus mencari salah-satu narapidana bernama Mace (Tim Plester) yang sudah menjadi penghuni MS-ONE. Mace menjadi saksi kunci terhadap keberadaan koper yang isinya mampu menguak kejahatan kotor yang menjebak dirinya.

Aksi Saling tembak, bela-diri, serta lari dari kepungan para narapidana kelas kakap menjadi menu utama dalam sebagian besar film ini. Selebihnya adalah menghadirkan dialog-dialog konyol antara Snow yang berkarakter sinis, harus berkelahi tiap saat dengan Emilie yang tidak suka serta kesal akan cara Snow menyelamatkannya.

Lockout merupakan ide orisinil dari sutradara terkenal asal Prancis Luc Besson. Film Nikita, Leon the Professional, The Fifth Element, Joan of Arch, adalah beberapa film sukses yang pernah digarapnya. Pria kelahiran tahun 1959 ini terakhir membesut film The Lady yang mengangkat kisah hidup pejuang Myamnar Aung San Suu Kyi.

Bukan itu saja, Luc Besson juga penulis skenario dari film-film box office berjudul Wasabi, The Transpotter trilogi, Taxi 3, Taken, serta Taken yang dibintangi oleh Liam Nesson. Dengan begitu banyaknya film yang pernah dikerjakan oleh Luc Besson itulah membuat Lockout menjadi ditunggu para penonton.

Kelebihan dari Lockout yang disutradarai oleh Stephen Leger dan James Mather ini tentunya adalah aksi memukau layaknya film-film hollywood. Namun, agar tak membuat penonton capek melihat adegan kekerasan yang terjadi, banyak scene yang menggambarkan percekcokan Snow dan Emilie yang akan mengundang gelak tawa anda.

Karakter Snow yang konyol namun juga heroik dapat dimainkan cukup maksimal oleh Guy Pearce. Peran Emilie Warnock yang innocent tapi tegar, tak buruk-buruk amat diperankan oleh Maggie Grace.

Namun duet tokoh antagonis bernama Alex diperankan Vincent Ragan serta tokoh Hydell yang diperankan sineas televisi Joseph Gilgun begitu mempersona. Peran antagonis yang dibebankan di pundak mereka sukses mereka lakoni.

Sayangnya Lockout yang memakai sebagian besar adegan harus memperlihatkan adegan stasiun luar angkasa tidak menunjukan sesuatu yang istimewa. Adegan lorong-lorong jalan stasiun luar-angkasa terlihat standar dan biasa saja.

Adegan pertempuran pesawat-pesawat tempur luar angkasa dengan Penjara MS-ONE juga sangat biasa yang membuat kita tak terpesona karena sudah sering melihat adegan efek canggih dari film-film hollywood lainnya.
Terlepas dari itu semua, Lockout merupakan film dengan ide menarik ketika memunculkan setting penjara luar-angkasa dengan segala macam bumbu pergolakannya. Selamat menonton.

http://www.seruu.com/entertainment/film-a-sinetron/artikel/ulasan-film-lockout-ketika-penjara-tidak-lagi-di-bumi

Ketika Layar Disesaki Para Super-Hero

Ketika Rumah Produksi mengumumkan membuat The Avengers, tentunya mendapat sorak-sorai dari seluruh pecinta film super-hero. Bayangkan saja akan ada si mahluk pemarah HULK dalam tubuhBruce Banner, Pria militer dengan julukan Captain America, si penghuni planet Asgard bernamaThor, dan tentunya si jenius Tony Stark yang berkostum Iron Man.

Menariknya lagi, semua tokoh super-hero tersebut sudah pernah diangkat ke layar lebar lewat cerita masing-masing. Hebatnya, Marvel mampu menyatukan setiap karakter asli di film sebelumnya untuk bergabung dalam proyek Marvel’s The Avengers.

Cerita The Avengers sendiri cukup sederhana. Loki yang merupakan saudara dari Thor, mencuri partikel Tesseract dari markas organisasi The Shield yang dikomandoi Nick Fury. Dengan partikel tersebut, recananya Loki bersama teman-teman Alien dari planet lain, menjadikan bumi sebagai jajahannya. Melihat Bumi dalam keadaan terancam, Nick Fury mengumpulkan para super-hero untuk menggagalkannya.

Maka Terkumpulah Captain America, Hulk, Iron-Man, dan juga Thor. Ditambah para agen khususBlack Widow/Natasha Romanoff, agen Maria Hill, agen Phil Coulson, dan agen Clint Bartonatau yang biasa disebut Hawkeye, meski nanti dalam film akan ada cerita mengenai awal keberpihakannya.

Sajian Apa yang  dihadirkan The Avengers ?

Adaptasi para jagoan super-hero telah kita nikmati mulai dari Superman, Batman, Spiderman, X-Men Trilogi, dan begitu banyak film super hero lainnya yang pernah disuguhkan Hollywood. Dalam The Avengers, nilai lebih tentunya penyatuan karakter-karakter para jagoan Marvell dalam satu layar. Pertanyaannya, apa nilai lebih lainnya yang diberikan kepada penonton oleh sutradara Josh Whedondan penulis skenario Zak Penn untuk menjadikan film ini menjadi istimewa ?

Penggabungan banyak tokoh utama dalam satu film bisa membuat blunder apabila setiap karakter tidak mendapatkan porsi lebih. Salah-satu film yang berhasil membuat penggabungan tersebut sukses adalah Lord of the Rings. Peter Jackson mampu meracik begitu banyak karakter utama tetap padu dalam porsinya masing-masing. X-men meski sukses di pasaran, tapi Wolverine terlalu dominan dibandingkan tokoh-tokoh mutant lainnya.

Untuk The Avengers, Josh Whedon dan Zak Penn rupanya tak mau terjebak dalam dominasi satu karakter super-hero. Untuk mengakalinya, dengan cerdas The Avengers berhasil menghadirkan dialog-dialog cerdas diantara super-hero yang harus cekcok untuk menyelamatkan Bumi.

Bawel, Rewel, dan cerewetnya para super-hero antara satu dan yang lainnya berhasil dibuat begitu menarik dengan begitu banyak selipan kalimat yang membuat penonton terbahak-bahak. Iron-Man musti selalu nyinyir terhadap CaptainAmerica dan Thor yang dianggapnya jadul untuk menjadi jagoan. serta bagaimana perang kata-kata antara Nick Fury, Loki, Bruce Banner, serta Natasha Romanoff.

Loki Cs yang digambarkan sosok antagonis Versus para pembela kebenaran tidak mutlak jadi satu-satunya pertempuran yang dihadirkan oleh Josh Whedon dalam visualisasi film ini. Adegan Iron ManVersus Thor atau Hulk yang marah mengejar The Black Widow juga menjadi adegan aksi yang tak terlupakan.

Alien yang mengobrak-abrik satu isi kota, tak kalah seru dibandingkan film Transformers besutanMichael Bay. Kelebihan masing-masing super-hero diwujudkan dalam setiap porsi tanpa membuat penonton harus bingung melihat layar yang disesaki banyak jagoan. Lihat saja, adegan Black Widowyang aksinya begitu menawan meski masih diikat di bangku, mampu membuat seorang jendral korup asal Rusia bertekuk lutut.

Imajinasi yang membuat menarik lainnya adalah penggambaran sebuah kapal induk milik The Shieldyang dari laut mampu terbang ke udara atau penggambaran planet Asgard yang kelam ketika Loki sedang negoisasi dengan para Alien jahat yang mau menyerbu Bumi.

Semua penonton pasti menyukai Robert Downey Jr yang selalu tampil apik dalam dua film Iron Man sebelumnya. Meski kenyang dan berkarakter, Chris Hemsworth (Thor) dan Chris Evans (Captain America) mampu meladeni karakter konyol Tony Stark dengan gaya mereka yang jugasuper-hero.

Perjudian memilih Mark Rufallo sebagai Bruce Banner/Hulk ternyata tepat. Mark Rufallo berhasil menyelami karakter Bruce Banner yang sebenarnya. Pemilihan karakter Bruce Banner seperti momok bagi Industri Hollywood. Eric Bana dan Edward Norton terbukti gagal ketika membintangi film Hulkyang pernah digarap hollywood beberapa tahun silam.

Mark Rufallo mampu menjelma tokoh Bruce Banner mirip seperti penggambarannya dalam komik ataupun seperti Bill Bixby yang berperan sebagai Bruce Banner dalam serial televisi The Incredible Hulk dua dasawarsa silam.

Begitu juga Samuel L. Jackson mampu menempatkan dirinya dalam karakter Nick Fury untuk memimpin sekumpulan jagoan dari seluruh pelosok Bumi. Karakter cool namun mematikan Black Widow, tampil tidak mengecewakan lewat akting Scarlett Johansson dan juga tokoh super-hero baruHawkeye lewat akting tegas Jeremy Renner.

Sayangnya, karena persoalan durasi, tokoh Pepper Pots (Gwmneth Paltrow), Profesor Erik Selvig (Stellan Skarsgard) hanya tampil seperti cameo dan juga sedikitnya dialog Paul Bettanyyang mengisi suara Jarvis. Begitu juga agen Maria Hill yang diperankan Cobie Smulders. Maria Hill merupakan tokoh cukup besar dalam komiknya.

The Avengers, meski sesak dengan begitu banyak karakter super-hero yang biasanya jadi sentral tokoh di film masing-masing, mampu diracik Josh Whedon dan Zak Penn dalam kemasan dialog konyol dan cekcok yang membuat terkesima tanpa harus terus-menerus melihat adegan-adegan pertempuran seru dan ciamik. Terbukti Josh Whedon mampu menjadikan The Avengers menjadi pesaing film super-hero lainnya seperti Batman milik Christopher Nolan ataupun X-Men trilogy dan spin-off film X-Men yg telah beredar.

The Avengers menjadi film super-hero yang konyol, segar, lucu, serta tampilan pertempuran yang tak membosankan untuk dinikmati. Selamat Menonton.

BINTANG : **** (4/5)

Marvel’s The Avengers

Bahasa : Inggris
Produksi Negara : Amerika Serikat
Genre : Adaptasi, Sains-fiksi, Aksi-Petualangan
Klasifikasi Penonton : PG-13 (Remaja)
Durasi : 2 jam 20 Menit
Tayang Int;l : 4 Mei 2012
Tayang Ind : 4 Mei 2012
Rumah Produksi : Marvels Studio
Distributor : Walt Disney Studios Motion Pictures

Sutradara : Josh Whedon
Penulis Skenario : Zak Penn & Josh Wedon
Penulis Asli (komik) : Stan Lee & Jack Kirby

Robert Downey Jr : Tony Stark/Iron Man
Chris Evans : Steve Rogers/Captain America
Chris Hemsworth : Thor
Mark Rufallo : Dr. Bruce Banner/HULK
Samuel L. Jackson : Nick Fury
Scarlett Johansson : Natasha Romanoff/Black Widow
Jeremy Renner : Clint Barton/Hawkeye
Tom Hiddleston : Loki
Stellan Skarsgard : Profesor Erick Selvig
Cobie Smulders : Agen Maria Hill
Clark Gregg : Agen Phil Coulson
Gwmneth Paltrow : Peper Potts
Paul Bettany : Pengisi Suara Jarvis

Quotes
Steve Rogers: Stark, we need a plan of attack!
Tony Stark: I have a plan: attack!

Natasha Romanoff: [discussing attacking Loki] But he’s a god!
Steve Rogers: Ma’am, there’s only one God, and I’m pretty sure he doesn’t dress like that.

Tony Stark: I thought we were having a moment.
Pepper Potts: I was having twelve percent of a moment.

Steve Rogers: Big man in a suit of armour. Take that off, what are you?
Tony Stark: Genius, billionaire, playboy, philanthropist.

Tony Stark: Call it, Captain.
Steve Rogers: All right, listen up! Until we can close that portal up there, what we need is containment. Barton: I want you on that roof, eyes on everything. Call out patterns and strays. Stark: you’ve got the perimeter. Anything gets more than three blocks out, you turn it back or you turn it to ash. Thor: you’ve gotta try and bottleneck that portal, slow them down. You’ve got the lightning – light the bastards up!
Steve Rogers: [turns to Natasha] You and me: we stay here on the ground, keep the fighting here. And Hulk: smash!

Thor: You have no idea who you are dealing with!
Tony Stark: Shakespeare in the park? [Looks around for a moment, then resumes]
Tony Stark: Doth mother know you weareth her drapes?

Captain America: Sergeant! I want you to station your men in all these buildings, and I need a perimeter all the way down to 39th.
Police Sergeant: Why should I take orders from you?
Captain America: [kills a bunch of enemies]
Police Sergeant: [on radio] I want men posted in all these buildings! And I want a perimeter all the way down to 39th!

Tony Stark/Iron Man (talk to Hawkeye) : Clench up, Legolas ! (*Legolas Character an Archers from film Lord of the Rings)

Tulisan ini diambil dari http://www.seruu.com

Link: http://www.seruu.com/entertainment/film-a-sinetron/artikel/review-marvels-the-avengers-ketika-layar-disesaki-para-super-hero

SAFE HOUSE (2012)

Ramuan Terbaru Hollywood Untuk Kisah Spionase

Kisah mengenai dinas intelejen atau dunia spionase memang begitu menarik untuk diangkat ke layar lebar. Hollywood sudah ratusan kali mengangkat kisah spionase ke layar lebar. Mulai dari film spionase konyol ala Austin Power hingga yang berkualitas ala Jason Bourne Trilogi.

Dalam sepuluh tahun terakhir ini, kisah Jason Bourne adalah produksi Hollywood yang terbaik dari segi aksi dan segi kualitas cerita. Jason Bourne yang hadir dalam Bourne Identity, Bourne Supremacy,serta Bourne Ultimatum menjadi suguhan spionase yang mampu memuaskan para pecinta film spionase.

Yang selalu menjadi andalan Hollywood dalam menyuguhkan kisah spionase atau film mata-mata adalah dengan menjadikan badan Intelejen Amerika Serikat yang bernama CIA (Central Intelegence America) sebagai menu utama dalam alur jalan ceritanya.

Pertanyaannya, dengan begitu banyak film spionase yang telah dibuat, tema apalagi yang mau diangkat agar lebih segar di mata penonton penyuka film spionase. Penculikan, pembajakan, dan pembunuhan tokoh penting seperti presiden, nampaknya sudah usang.

Kali ini, Hollywood mempunyai adonan baru untuk membuat kisah mengenai spionase yang segar lewat konspirasi tingkat tinggi . Apa adonan baru itu ?, Hollywood lewat film Safe House menyuguhkan kisah rumah persembunyian yang juga berfungsi sebagai rumah tahanan tersembunyi yang dimiliki CIA di seluruh pelosok dunia.

Salah satu kisah nyata rumah persembunyian CIA yang paling gress adalah di Rumania dan Polandia yang pernah dijadikan rumah singgah tersebut dalam menampung para tahanan teroris sebelum menuju penjara Guantanamo yang dikhususkan bagi para teroris kelas berat.

Safe House dimulai lewat kisah seorang agen CIA lapangan bernama Matt Watson (Ryan Reynolds) yang bertugas menjaga dan mengontrol rumah aman tersembunyi CIA yang terletak di Cape Town, Afrika Selatan.

Matt Watson yang sudah 12 bulan bertugas di rumah persembunyian CIA tersebut diliputi kebosanan karena tidak adanya aktivitas apapun dalam tugasnya menjaga rumah persembunyian tersebut.

Kebosanannya sirna ketika Tim khusus CIA lainnya membawa sebuah tawanan bernama Toby Frost (Denzel Washington) yang dikenal buronan kelas kakap CIA yang dulunya pernah menjadi agen CIA. Situasi berbalik menjadi tegang bagi Matt Watson ketika rumah persembunyian tersebut diserang oleh sepasukan pembunuh yang menginginkan Toby Frost untuk tujuan tertentu.

Matt Watson yang masih hijau dan minim pengalaman lapangan, harus memutuskan pergi dari rumah persembunyian CIA tersebut untuk membawa Toby Frost ke tempat yang aman dari incaran para pembunuh profesional yang menyerbu.

Semenjak penyerbuan itu, Watson ditugaskan Markas Pusat CIA di Langley untuk mengawal dan memastikan Toby Frost harus aman dari kejaran para pembunuh sebelum dijemput oleh Tim CIA lainnya.

Dalam pelariannya tersebut, Watson mendapatkan banyak pelajaran serta harus mengetahui berbagai intrik yang terjadi di dalam internal CIA. Wattson harus merasakan kerasnya menjadi agen lapangan CIA dibawah peluru yang terus berdesing dan juga harus berpikir keras konspirasi apa yang terjadi di CIA yang melibatkan Toby Frost sampai di akhir film.

Safe House merupakan film Hollywood perdana bagi sutradara Daniel Espinosa yang berkebangsaan Swedia. Merupakan keberuntungan bagi Daniel Espinosa dipercayakan membesut Safe House yang dibintangi pemenang Oscar Denzel Washington dan bintang muda penuh bakat Ryan Reynolds yang sebelumnya membintangi Green Lantern, Burried, The Proposal, serta menjadi aktor pendukung dalam X-Men; Wolverine.

Membandingkan dengan film spionase lainnya besutan Hollywood, Safe House menyajikan cerita segar dan orisinil dengan mengangkat rumah persembunyian CIA yang selama ini sudah menjadi berita besar di seluruh dunia.

Penonton juga disuguhkan oleh adegan penyiksaan dengan nama Waterboarding yang menjadi cara penginterogasian CIA di dunia nyata. Tehnik interogasi/penyiksaan Waterboarding dikecam dunia internasional dan Presiden AS Barack Obama ketika menjabat sebagai presiden meminta CIA untuk tidak lagi melakukan cara tersebut.

Konspirasi menjadi alur cerita menegangkan yang disuguhkan penonton dengan mengungkap di akhir film siapa sebenarnya “the real bad guy in the movie” yang ada dalam Safe House. Ini menjadi poin tersendiri bagi David Guggenheim yang merupakan karya perdananya dalam menulis skenario film layar lebar.

Hebatnya Sutradara Daniel Espinosa dapat merangkum alur cerita yang diimajinasikan oleh David Guggenheim ke dalam sebuah visual di mata penonton dengan adegan aksi yang apik dan tegang plus alur cerita yang tidak membosankan sampai di akhir film.

Pemilihan Denzel dan Ryan Reynolds begitu klop dalam memerankan Wattson dan Frost. Kombinasi agen CIA berpengalaman dan agen CIA yang masih hijau diperankan apik dan menawan dalam setiap adu akting diantara keduanya.

Mencoba membandingkan Safe House dengan film spionase ala CIA seperti Jason Bourne Trilogi, film ini memang belum bisa menyamakan kadar kualitas seperti yang diberikan trilogi Jason Bourne karya sutradara Paul Greengrass.

Namun, kalau dalam trilogi Jason Bourne, Matt Damon tidak diberikan lawan main yang sepadan, sehingga Matt Damon begitu mendominasi peran sentral tokoh Jason dalam setiap film Jason Bourne.

Sementara dalam film Safe House, penonton mendapatkan suguhan menawan ketika Denzel dan Ryan Reynolds dalam setiap adu akting yang mereka lakukan. Tentunya tanpa melupakan akting Vera Varmiga yang memerankan Catherine Linklater dan Brendan Gleeson yang mendalami peran David Barlow yang masing-masing sebagai pemimpin dalam tugas-tugas CIA di lapangan.

Secara keseluruhan Safe House merupakan film spionase yang berkualitas dan juga menghibur seperti Jason Bourne Trilogi, Spy Game, Body of Lies, Munich, Ronin, Recruit, ataupunMission Imposible Series.  Bedanya Safe House tampil lebih realistis dan vulgar serta jauh dari kesan film aksi semata.

Safe House menjadi film spionase orisinil yang mantap dan seru di mata penonton tanpa harus kecewa seperti dalam film Salt, The American, From Paris with Love, atau film spionase yang akhir-akhir ini baru saja diputar di bioskop dengan judul Haywire. Selamat menonton 🙂

Bintang: ***(3/5)