Mendengar rumah produksi Maxima akan membuat sebuah film keluarga berjudul ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ sempat membuat saya terhenyak. Karena, selama ini Maxima lebih “setia” di genre horor atau komedi dengan bumbu seks yang memang laris di pasaran.

Ketika trailer-nya beredar, saya masih belum antusias. Bahkan, saya langsung berpikir film arahan Guntur Soeharjanto itu akan menjiplak film India yang berjudul ‘Chillar Party’.

Namun, ternyata prasangka negatif saya salah. Pertama, Maxima memang mau melebarkan sayap dengan membuat film yang tidak melulu menjual horor dan aksesoris bumbu seks untuk meraup keuntungan. Kedua, ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ merupakan adaptasi dari novel Achmad S yang terbit pada 1973.

‘Brandal-Brandal Ciliwung’ bercerita mengenai persahabatan anak-anak yang tinggal berdekatan dengan kali Ciliwung di pinggiran Jakarta. Ada Jaka (Endy Arfian) yang merupakan anak betawi asli, Tirto (Aldy Rialdy) yang berambut kriwil, Raja (M. Syafikar) yang berdarah batak, Umar (Sehan Zack) yang berdarah Arab, serta Timur (Julian Liberty) yang berasal dari daerah timur Indonesia.

Di tengah persahabatan lima bocah yang berkeliaran di bantaran Sungai Ciliwung itu muncul Sissy (Gritte Agatha) yang berdarah Tionghoa. Persahabatan, konflik dengan geng lainnya, serta hubungan keluarga yang dialami masing-masing bocah menjadi menu utama sepanjang 105 menit.

Persahabatan para bocah coba digarap sang sutradara sebagai contoh bahwa perbedaan warna kulit dan suku tidak menghalangi untuk saling toleransi, sikap yang akhir-akhir ini hanya menjadi teori dalam kehidupan berbangsa. Kebersamaan tersebut menjadi sebuah pesan yang kuat bagi anak-anak yang menonton film ini.

Sayangnya sang sutradara dan penulis skenario yang mengadaptasi dari novel tidak menambahkan bumbu-bumbu yang lebih menarik untuk mengundang gelak tawa atau permainan rakyat yang menjadi khas Indonesia.

Begitu juga karakter personal yang ditampilkan dari 5 sosok bocah yang menjadi tokoh sentral sepanjang cerita. Meski tidak bisa dibandingkan dengan film ‘Laskar Pelangi’, namun tidak ada tokoh kuat yang muncul seperti Aray yang ‘legendaris’.

Barisan pemeran pendukung, dari Ira Wibowo, Lukman Sardi, Hengky Solaiman hingga Olga Lydia tampil elegan dalam mewarnai penokohan di film ini. Terlebih Ira Wibowo yang mampu menjelma menjadi sosok perempuan Betawi yang meyakinkan dan enak didengar dengan dialek-dialek yang keluar dari mulutnya.

Secara keseluruhan, ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ menjadi sebuah film yang cukup baik sebagai tontonan keluarga, terutama untuk anak Indonesia yang selama ini hanya menonton sinetron di TV.

Apresiasi khusus saya berikan kepada Guntur Soeharjanto yang keluar dari spesialisasinya, film-film komedi romantis. Begitu juga kepada rumah produksi Maxima yang mau keluar dari pakem film-film komedi berbau seks dan film horor klise ala Indonesia.

‘Brandal-Brandal Ciliwung’ menjadi miniatur potret keberagaman Indonesia yang menggambarkan bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan penghalang dalam membangun sebuah bangsa. Selamat menonton!

Tulisan ini diambil dari review detik.com

http://hot.detik.com/movie/read/2012/08/27/105558/1999622/218/-brandal-brandal-ciliwung–miniatur-potret-keberagaman-indonesia

Iklan