Notes: Tulisan ini diambil dari review detik.com
Link : http://hot.detik.com/movie/read/2012/07/20/150242/1970631/229/18—forever-love-pelajaran-tentang-menjadi-dewasa

Pelajaran Tentang Menjadi Dewasa

Jakarta – Umur 18 tahun tentunya sudah bisa dimaknai menjadi orang yang dewasa. Namun, apakah semua yang sudah berumur 18 tahun akan menjadi orang yang dewasa? Tentu tidak, karena kedewasaan lebih diukur dari perilaku dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Untuk film ’18++ Forever Love’, itulah kira-kira yang ingin digambarkan oleh Nayato Fio Nuala. Sebuah kisah seorang remaja yang menginjak usia 18 tahun. Adalah Kara (Adipati Dolken) yang genap berusia 18 tahun. Kara yang tadinya hidup bagaikan anak konglomerat terhenyak ketika fasilitas kemewahan yang selama ini didapatnya harus hilang. Opa Kara (Roy Martin) menarik semua fasilitas tersebut, karena di sinilah Kara harus memulai hidupnya yang beranjak dewasa.

Kara yang tadinya bergelimang uang mendapati dirinya jadi miskin mendadak. Sang remaja akhirnya berpikir untuk lari dari lingkungan teman-temannya yang borjuis dan memulai sesuatu yang baru. Dengan sedikit sentuhan cerita dijambret, Kara akhirnya bertemu seorang gadis cantik bernama Mila (Kimberly Ryder) yang membantunya.

Mila membantu Kara dengan sepenuh hati. Tidak tanggung-tanggung, Kara mendapat persetujuan oleh Ibu Milla (Keke Soeryo Renaldi) dan adik kecil Mila yang bernama Sasi (Reska Tania) untuk tinggal sementara bersama.

Mila sangat bertolak belakang dengan Kara. Milla merupakan gadis yang dewasa secara tindakan dan bertanggung jawab. Perjalanan film akhirnya memperlihatkan bahwa Kara belajar mengenai arti kedewasaan dari sosok Mila. Untuk menambah bumbu, Kara dan Mila saling jatuh hati.

Dan, untuk membuat semakin dramatis, ada persoalan yang ditutup-tutupi Mila mengenai kondisi kesehatannya.

Mitosnya, apabila yang muncul di poster film ditulis Nayato Fio Nuala (bukan Koya Pagayo atau Pingkan Utari) maka film tersebut akan lebih serius. Namun, ternyata, dibandingkan dengan drama remaja romantis yang pernah diciptakan oleh Nayato, seperti ‘Cinta Pertama’ atau ‘The Butterfly’, film ini terasa hambar dan begitu bias.

Hambar, karena cerita yang dipakai terlalu sering hadir dalam kisah percintaan romantis yang kita temui dalam genre yang sama. Bias, karena begitu banyak kebetulan dan pemakluman yang hadir untuk memaksakan alur cerita. Adegan bagaimana pertemuan Kara dan Mila butuh sebuah cerita yang pas. Namun, yang terjadi, tiba-tiba dengan mudahnya Kara bisa tinggal di rumah Mila, itu terlalu tidak masuk akal.

Presisi tempat juga mengganggu. Opa Kara yang diperankan Roy Martin diceritakan tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan Mampang, Jakarta-Selatan. Tapi semua orang yang bisa mengetahui bahwa latar rumah tersebut adalah pemandangan indah yang tidak mungkin ada di wilayah mana pun di Jakarta.

Alur cerita yang dibuat oleh Cassandra Massardi banyak yang terlalu dipaksakan. Dibandingkan beberapa film seperti ‘Purple Love’, ‘Tarix Jabrix 3’, atau ‘Get Merried’ 2 dan 3, film ’18++ Forever Love’ merupakan kemunduran penulisan cerita yang dibuat Cassandra.

Namun, Nayato Fio Nuala dengan pengambilan gambar yang khas, dengan pemilihan lokasi syuting cukup enak dipandang mata. Satu hal lagi yang menyelamatkan film ini adalah akting Roy Martin sebagai aktor kawakan Indonesia. Meski hanya peran pendukung, Roy Martin seakan mengajarkan kepada Adipati Dolken, Kimberly Ryde, serta pemeran muda lainnya, bagaimana cara akting.

’18++ Forever Love’ mempunyai benang merah untuk menunjukkan kepada generasi muda yang beranjak dewasa akan tanggung jawab menjadi orang yang dewasa dalam mengarungi hidup ke depan. Dengan contoh, bahwa kehidupan dewasa itu bukanlah mengandalkan harta orangtua atau sekeliling kita untuk hidup. Kedewasaan itu adalah tanggung jawab kita untuk menentukan arah hidup kita ke depan nantinya.
John Tirayohwartawan film
(mmu/mmu)

Iklan