Archive for Juli, 2012


THE AMAZING SPIDERMAN (2012)

Notes: Tulisan ini diambil dari review Republika.co.id
Link : http://www.republika.co.id/berita/senggang/review-senggang/12/07/20/m7ghth-the-amazing-spiderman-nuansa-komik-yang-lebih-kental-dari-marc-webb

Nuansa Komik yang Lebih Kental dari Marc Webb

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA
Oleh John Tirayoh/Wartawan Film

Sony Pictures mencoba kembali buktikan bahwa mereka memang pantas memproduksi franchise superhero Spider-Man.

Sukses memanjakan pecinta dan penggemar Spider-Man di tiga film sebelumnya, Sony Pictures menghadirkan sesuatu yang baru pada Spider-Man. Tidak tanggung-tanggung, sesuatu yang baru itu ditampilkan lewat dua peran penting dalam film. Yakni sang pemeran utama dan sutradara.

Kali ini tidak akan ada Tobey Maguire yang sudah begitu familiar mengenakan kostum manusia laba-laba buatan komik marvel. Perannya digantikan pemain muda bernama Andrew Garfield.

Tidak hanya Tobey Maguire, posisi sutradara Sam Raimi yang sukses membesuttrilogy Spider-Man sebelumnya juga digantikan oleh Marc Webb, seorang sutradara muda yang mencuri perhatian Hollywood lewat film “500 Days of Summer”.

Penonton seketika itu terhentak dengan keputusan berani Sony Pictures.

Pihak Sony Pictures memang selalu “nyeleneh” ketika memilih sutradara untuk Spider-Man. Sebelumnya, ketika Sam Raimi ditunjuk menjadi sutradara juga membuat pengamat film dan pecinta Spiderman “bengong”. Pasalnya, Raimi sebelumnya lebih sering bermain di genre horor atau thriller.

Lalu, akan seperti apakah Spider-Man yang coba dimunculkan Marc Webb? Apakah sama dengan Spider-Man sebelumnya?

The Amazing Spiderman versi Marc Webb dibuka dengan latar belakang kenapa Peter Parker ditinggal orang tuanya dan tinggal dengan Bibi May (Selly Field) dan Paman Ben (Martin Sheen), hingga Peter Parker duduk di sekolah menengah tingkat atas.

Di tahapan ini, Marc Webb dan penulis skenario James Vanderbilt lebih menonjolkan sosok Peter Parker yang lebih pintar dan jenius dibanding Peter Parker versi Sam Raimi. Tentunya tetap dengan alur cerita menggemari fotografi.

Untuk membuat menarik, muncullah sosok Gwen Stacy (Emma Thompson) yang menjadi pacar Spider-Man sebelum Mary-Jane Watson, sosok perempuan pintar anak Kapten George Stacy (David Leary) yang menjabat kepala polisi New York.

Tak ada musuh utama tentu akan membuat film ini jadi “garing”. Maka dimunculkanlah The Lizzard sebagai tokoh antagonis yang menjadi lawan utama Spider-Man.

The Lizzard diperankan oleh Rhys Ifans yang dalam kesehariannya seorang ilmuwan ternama bernama Dr. Curt Connors. Tempat bekerja Dr. Curt Connors adalah Perusahaan Oscorp yang merupakan perusahaan dari Norman Osborn (kelak akan jadi lawan Spiderman dengan julukan Green Goblin).

Dalam The Amazing Spider-Man, Marc Webb tentu berpikir keras bagaimana menyaingi Spider-Man ala Sam Raimi yang telah terbukti sukses membuat jatuh cinta para pecinta Spider-Man. Marc Webb juga harus mampu menciptakan sosok baru Peter Parker.

Dari sisi penokohan Peter Parker, Marc Webb terlihat mencoba “patuh” pada pakem komik Spider-Man yang diciptakan Stan Lee. Sosok Peter Parker dibuat lebih pintar, jenius, humoris, berbeda dengan versi Sam Raimi yang lebih polos dan lebih “innocent”.

Sedang untuk karakter Spider-Man, Marc Webb menampilkan Spider-Man dalam balutan kostum baru yang lebih dinamis dengan perpaduan warna lebih kelam dibanding kostum yang dipakai Tobey Maguire.

Setelah karakterisasi selesai, Marc Webb juga membuat perbedaan dalam sisi yang kerap membuat penonton terkagum-kagum, apalagi kalau bukan action (aksi) melompat gedung.

Bisa dikatakan, Spider-man versi Marc Webb lebih entertaining dibanding aksi-aksi Spider-man versi Sam Raimi. Spider-Man milik Webb lebih lentur dan tampil dengan gaya yang berbeda. Di banyak adegan, Marc Webb mampu menghadirkan si manusia laba-laba begitu mirip dengan gambar-gambar yang ada di halaman komik Spider-Man.

Disinilah kelebihan sutradara Marc Webb dalam membesut kisah Spider-Man.

Hanya saja, Marc Webb sepertinya terhipnotis oleh gaya dan alur penceritaan dari tiga film Spider-Man sebelumnya. Beberapa pakem dan gaya bertutur The Amazing Spider-Man masih sama dengan film Spider-Man sebelumnya.

Mencuri perhatian adalah Rhys Ifans yang berperan sebagai The Lizzard/Dr. Curt Connors. Rhys Ifans tampil begitu “charming” dan memesona. Padahal, bukan tipe dan gaya Rhys Ifans memerankan seorang ilmuwan. Lihat saja aktingnya saat berperan sebagai Spike dalam film “Notting Hill”.

Anda yang ingin tahu seperti apa sosok legenda Stan Lee yang menciptakan begitu banyak super-hero dalam komik Marvell ikut hadir sebagai cameo. Tidak seperti kemunculan cameo dalam film-film hollywood kebanyakan, Stan Lee muncul di tengah satu adegan seru yang juga mengundang gelak tawa.

Secara keseluruhan, manusia Laba-laba versi Marc Webb tampil sebagai sosok yang lebih labil, ditambah adegan drama menyentuh, serta gaya konyol seorang Spider-man yang tetap membawa ransel sekolah meski sudah memakai kostum Spider-man. Tidak hanya itu, Spider-man yang masih ababil menunggu musuh dengan memanfaatkan fitur games pada sebuah telepon selular.

Acungan jempol juga dapat disematkan kepada composer James Horner yang mengisi scoring. Adegan Perkelahian di sebuah gang kumuh, menjadi begitu menarik dengan alunan komposisi musik yang begitu hidup. Scoring the Amazing Spider-Man jauh lebih hidup dibanding tiga film sebelumnya.

The Amazing Spider-Man sendiri menyisahkan satu adegan pendek yang muncul di akhir film. Pastikan anda jangan langsung beranjak ketika credit title muncul. Adegan tersebut bisa menjadi kunci petunjuk apabila film ini akan dibuat lanjutannya.

Adegan tersebut akan membuat anda menebak-nebak siapa yang muncul dalam film lanjutannya, apakah The Shadow atau si Green Goblin/ Norman Osborn ?

Selamat Menyaksikan.

Notes: Tulisan ini diambil dari review detik.com
Link : http://hot.detik.com/movie/read/2012/07/20/150242/1970631/229/18—forever-love-pelajaran-tentang-menjadi-dewasa

Pelajaran Tentang Menjadi Dewasa

Jakarta – Umur 18 tahun tentunya sudah bisa dimaknai menjadi orang yang dewasa. Namun, apakah semua yang sudah berumur 18 tahun akan menjadi orang yang dewasa? Tentu tidak, karena kedewasaan lebih diukur dari perilaku dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Untuk film ’18++ Forever Love’, itulah kira-kira yang ingin digambarkan oleh Nayato Fio Nuala. Sebuah kisah seorang remaja yang menginjak usia 18 tahun. Adalah Kara (Adipati Dolken) yang genap berusia 18 tahun. Kara yang tadinya hidup bagaikan anak konglomerat terhenyak ketika fasilitas kemewahan yang selama ini didapatnya harus hilang. Opa Kara (Roy Martin) menarik semua fasilitas tersebut, karena di sinilah Kara harus memulai hidupnya yang beranjak dewasa.

Kara yang tadinya bergelimang uang mendapati dirinya jadi miskin mendadak. Sang remaja akhirnya berpikir untuk lari dari lingkungan teman-temannya yang borjuis dan memulai sesuatu yang baru. Dengan sedikit sentuhan cerita dijambret, Kara akhirnya bertemu seorang gadis cantik bernama Mila (Kimberly Ryder) yang membantunya.

Mila membantu Kara dengan sepenuh hati. Tidak tanggung-tanggung, Kara mendapat persetujuan oleh Ibu Milla (Keke Soeryo Renaldi) dan adik kecil Mila yang bernama Sasi (Reska Tania) untuk tinggal sementara bersama.

Mila sangat bertolak belakang dengan Kara. Milla merupakan gadis yang dewasa secara tindakan dan bertanggung jawab. Perjalanan film akhirnya memperlihatkan bahwa Kara belajar mengenai arti kedewasaan dari sosok Mila. Untuk menambah bumbu, Kara dan Mila saling jatuh hati.

Dan, untuk membuat semakin dramatis, ada persoalan yang ditutup-tutupi Mila mengenai kondisi kesehatannya.

Mitosnya, apabila yang muncul di poster film ditulis Nayato Fio Nuala (bukan Koya Pagayo atau Pingkan Utari) maka film tersebut akan lebih serius. Namun, ternyata, dibandingkan dengan drama remaja romantis yang pernah diciptakan oleh Nayato, seperti ‘Cinta Pertama’ atau ‘The Butterfly’, film ini terasa hambar dan begitu bias.

Hambar, karena cerita yang dipakai terlalu sering hadir dalam kisah percintaan romantis yang kita temui dalam genre yang sama. Bias, karena begitu banyak kebetulan dan pemakluman yang hadir untuk memaksakan alur cerita. Adegan bagaimana pertemuan Kara dan Mila butuh sebuah cerita yang pas. Namun, yang terjadi, tiba-tiba dengan mudahnya Kara bisa tinggal di rumah Mila, itu terlalu tidak masuk akal.

Presisi tempat juga mengganggu. Opa Kara yang diperankan Roy Martin diceritakan tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan Mampang, Jakarta-Selatan. Tapi semua orang yang bisa mengetahui bahwa latar rumah tersebut adalah pemandangan indah yang tidak mungkin ada di wilayah mana pun di Jakarta.

Alur cerita yang dibuat oleh Cassandra Massardi banyak yang terlalu dipaksakan. Dibandingkan beberapa film seperti ‘Purple Love’, ‘Tarix Jabrix 3’, atau ‘Get Merried’ 2 dan 3, film ’18++ Forever Love’ merupakan kemunduran penulisan cerita yang dibuat Cassandra.

Namun, Nayato Fio Nuala dengan pengambilan gambar yang khas, dengan pemilihan lokasi syuting cukup enak dipandang mata. Satu hal lagi yang menyelamatkan film ini adalah akting Roy Martin sebagai aktor kawakan Indonesia. Meski hanya peran pendukung, Roy Martin seakan mengajarkan kepada Adipati Dolken, Kimberly Ryde, serta pemeran muda lainnya, bagaimana cara akting.

’18++ Forever Love’ mempunyai benang merah untuk menunjukkan kepada generasi muda yang beranjak dewasa akan tanggung jawab menjadi orang yang dewasa dalam mengarungi hidup ke depan. Dengan contoh, bahwa kehidupan dewasa itu bukanlah mengandalkan harta orangtua atau sekeliling kita untuk hidup. Kedewasaan itu adalah tanggung jawab kita untuk menentukan arah hidup kita ke depan nantinya.
John Tirayohwartawan film
(mmu/mmu)


Ketika Hollywood Ingin Bapak Bangsa-nya Jadi Pemburu Vampir

Bagi anda yang bertanya-tanya, apakah Abraham Lincoln yang dimaksud dalam film ini adalah Presiden Amerika yang ke 16, maka jawabannya adalah benar. Abraham Lincoln di film ini tidak hanya berjuang menghapus perbudakan. Namun juga ikut memburu para vampir yang berkeliaran di jaman tersebut.

Hollywood sudah bosan bagaimana Blade, Van Helsing, atau si cantik Buffy untuk memburu para vampir yang berkeliaran diantara manusia. Maka, dengan hadirnya novel Abraham Lincoln: Vampire Hunter, langsung diserobot oleh rumah produksi 20th Century Fox untuk diangkat ke layar lebar.

Kisahnya sederhana. Abraham Lincoln saat kecil menyaksikan bahwa salah-satu anggota keluarganya harus menjadi korban vampir yang hadir di sekeliling masyarakat. Semenjak itu Abraham Lincoln, menjadikan vampir targetnya untuk membalaskan dendam.

Abaraham Lincoln dewasa (Benjamin Walker) akhirnya bertemu Henry Sturgess (Dominic Cooper) yang juga ingin membantai para vampir. Dengan itu, Abraham Lincoln sembari terus meraih mimpinya untuk jadi pengacara (kelak turun ke dunia politik) terus bersama Henry memburu para vampir.

Puncaknya adalah ketika Abraham Lincoln yang menjadi Presiden Amerika Serikat ke 16, tetap harus berhadapan dengan klan vampir yang dipimpin oleh Adam (Rufus Sewell). Dengan kisah sejarah perang saudara Amerika (1861-1865) yang terjadi saat Abraham Lincoln berkuasa, perang antara Abraham Lincoln dan vampir pimpinan Adam juga makin panas.

Film yang disutradarai oleh Timur Bekmambetov (sebelumnya telah membesut film Wanted) memang unik dari beberapa film yang bercerita tentang vampir. Terlebih ketika melibatkan Abraham Lincoln yang acap kali disebut salah-satu Bapak Bangsa Amerika Serikat.

Untuk menambah menarik film ini, beberapa peristiwa besar dalam sejarah seperti Perang Saudara Amerika seakan-akan sangat berhubungan erat dengan pertarungan kaum manusia dengan para vampir.

Bayangkan saja, peristiwa besar Gettysburg digambarkan dalam film ini ada kaitan erat dengan keikut-sertaan para vampir. Sekedar informasi, Pertempuran Gettysburg dalam sejarah perang saudara Amerika, merupakan klimaks dari perseteruan para tentara Union dan tentara konfederasi yang bertikai.

Tentara Union yang mendukung kebijakan Abraham Lincoln untuk menghapus perbudakan berhasil memenangkan pertempuran Gettysburg, yang akhirnya menyebabkan tentara konfederasi menyerah. Hubungannya dalam film ini, ada satu poin dimana, pertempuran tersebut melibatkan para vampir dan pemburu vampir.

Sebagai sebuah film fiksi, Abraham Lincoln: Vampire Hunter, menjadi film yang menghibur dengan balutan beberapa peristiwa penting dalam sejarah Amerika (Khususnya pada era kepemimpinan Abraham Lincoln)

Penulis skenario Seth Grahame-Smith dan Timur Bekmambetov bebas saja menyajikan imajinasi mereka terhadap sosok Abraham Lincoln dengan embel-embel pemburu vampir. Mereka membuat sang Presiden menjadi tokoh yang juga mahir mengayunkan kampak dalam membasmi para Vampir.

Dengan beberapa adegan mengagetkan ala film Scream, adegan konyol, dan visual efek khas hollywood, Abraham Lincoln: Vampires Hunter menjadi keren dan nyeleneh. Walaupun tetap menjaga kharisma Abraham Lincoln yang sesungguhnya agar tak membuat publik Amerika marah.

Secara keseluruhan, film ini cukup menghibur dengan sedikit kreatifitas baru ketika melibatkan seorang tokoh politik besar (Pahlawan Bangsa) yang dipadukan dengan kisah sebagai pemburu vampir. Itulah hollywood. Mereka bisa menjadikan tokoh besar seperti Abraham Lincoln yang tidak hanya menjadi politisi dengan karir sebagai Presiden. Tapi juga bisa diutak-atik sebagai pemburu Vampir.

Bintang: ***(3/5)

Bahasa : Inggris
Produksi Negara : Amerika Serikat
Genre : Action, Fantasy
Klasifikasi Penonton : Dewasa (17 Tahun)
Durasi : 105 Menit
Tayang Int;l : 22 Juni 2012
Tayang Ind : 20 Juni 2012
Rumah Produksi : Tim Burton Productions & 20th Century Fox
Distributor : 20th Century Fox
Sutradara : Timur Bekmambetov
Penulis Skenario : Seth Grahame-Smith
Naskah Asli/Novel : Seth Grahame-Smith

Pemeran
Benjamin Walker : Abraham Lincoln
Dominic Cooper : Henry Sturgess
Anthony Mackie : Will Johnson
Mary Elizabeth Winstead : Marry Todd Lincoln
Rufus Sewell : Adam
Marton Csokas : Jack Barts
Jimmi Simpson : Joshua Speed
Erin Wasson : Vadoma