Latest Entries »

Iklan

POSTER HEARTBREAK.COM (2010)

BRANDAL-BRANDAL CILIK (2012)

Mendengar rumah produksi Maxima akan membuat sebuah film keluarga berjudul ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ sempat membuat saya terhenyak. Karena, selama ini Maxima lebih “setia” di genre horor atau komedi dengan bumbu seks yang memang laris di pasaran.

Ketika trailer-nya beredar, saya masih belum antusias. Bahkan, saya langsung berpikir film arahan Guntur Soeharjanto itu akan menjiplak film India yang berjudul ‘Chillar Party’.

Namun, ternyata prasangka negatif saya salah. Pertama, Maxima memang mau melebarkan sayap dengan membuat film yang tidak melulu menjual horor dan aksesoris bumbu seks untuk meraup keuntungan. Kedua, ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ merupakan adaptasi dari novel Achmad S yang terbit pada 1973.

‘Brandal-Brandal Ciliwung’ bercerita mengenai persahabatan anak-anak yang tinggal berdekatan dengan kali Ciliwung di pinggiran Jakarta. Ada Jaka (Endy Arfian) yang merupakan anak betawi asli, Tirto (Aldy Rialdy) yang berambut kriwil, Raja (M. Syafikar) yang berdarah batak, Umar (Sehan Zack) yang berdarah Arab, serta Timur (Julian Liberty) yang berasal dari daerah timur Indonesia.

Di tengah persahabatan lima bocah yang berkeliaran di bantaran Sungai Ciliwung itu muncul Sissy (Gritte Agatha) yang berdarah Tionghoa. Persahabatan, konflik dengan geng lainnya, serta hubungan keluarga yang dialami masing-masing bocah menjadi menu utama sepanjang 105 menit.

Persahabatan para bocah coba digarap sang sutradara sebagai contoh bahwa perbedaan warna kulit dan suku tidak menghalangi untuk saling toleransi, sikap yang akhir-akhir ini hanya menjadi teori dalam kehidupan berbangsa. Kebersamaan tersebut menjadi sebuah pesan yang kuat bagi anak-anak yang menonton film ini.

Sayangnya sang sutradara dan penulis skenario yang mengadaptasi dari novel tidak menambahkan bumbu-bumbu yang lebih menarik untuk mengundang gelak tawa atau permainan rakyat yang menjadi khas Indonesia.

Begitu juga karakter personal yang ditampilkan dari 5 sosok bocah yang menjadi tokoh sentral sepanjang cerita. Meski tidak bisa dibandingkan dengan film ‘Laskar Pelangi’, namun tidak ada tokoh kuat yang muncul seperti Aray yang ‘legendaris’.

Barisan pemeran pendukung, dari Ira Wibowo, Lukman Sardi, Hengky Solaiman hingga Olga Lydia tampil elegan dalam mewarnai penokohan di film ini. Terlebih Ira Wibowo yang mampu menjelma menjadi sosok perempuan Betawi yang meyakinkan dan enak didengar dengan dialek-dialek yang keluar dari mulutnya.

Secara keseluruhan, ‘Brandal-Brandal Ciliwung’ menjadi sebuah film yang cukup baik sebagai tontonan keluarga, terutama untuk anak Indonesia yang selama ini hanya menonton sinetron di TV.

Apresiasi khusus saya berikan kepada Guntur Soeharjanto yang keluar dari spesialisasinya, film-film komedi romantis. Begitu juga kepada rumah produksi Maxima yang mau keluar dari pakem film-film komedi berbau seks dan film horor klise ala Indonesia.

‘Brandal-Brandal Ciliwung’ menjadi miniatur potret keberagaman Indonesia yang menggambarkan bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan penghalang dalam membangun sebuah bangsa. Selamat menonton!

Tulisan ini diambil dari review detik.com

http://hot.detik.com/movie/read/2012/08/27/105558/1999622/218/-brandal-brandal-ciliwung–miniatur-potret-keberagaman-indonesia

THE AMAZING SPIDERMAN (2012)

Notes: Tulisan ini diambil dari review Republika.co.id
Link : http://www.republika.co.id/berita/senggang/review-senggang/12/07/20/m7ghth-the-amazing-spiderman-nuansa-komik-yang-lebih-kental-dari-marc-webb

Nuansa Komik yang Lebih Kental dari Marc Webb

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA
Oleh John Tirayoh/Wartawan Film

Sony Pictures mencoba kembali buktikan bahwa mereka memang pantas memproduksi franchise superhero Spider-Man.

Sukses memanjakan pecinta dan penggemar Spider-Man di tiga film sebelumnya, Sony Pictures menghadirkan sesuatu yang baru pada Spider-Man. Tidak tanggung-tanggung, sesuatu yang baru itu ditampilkan lewat dua peran penting dalam film. Yakni sang pemeran utama dan sutradara.

Kali ini tidak akan ada Tobey Maguire yang sudah begitu familiar mengenakan kostum manusia laba-laba buatan komik marvel. Perannya digantikan pemain muda bernama Andrew Garfield.

Tidak hanya Tobey Maguire, posisi sutradara Sam Raimi yang sukses membesuttrilogy Spider-Man sebelumnya juga digantikan oleh Marc Webb, seorang sutradara muda yang mencuri perhatian Hollywood lewat film “500 Days of Summer”.

Penonton seketika itu terhentak dengan keputusan berani Sony Pictures.

Pihak Sony Pictures memang selalu “nyeleneh” ketika memilih sutradara untuk Spider-Man. Sebelumnya, ketika Sam Raimi ditunjuk menjadi sutradara juga membuat pengamat film dan pecinta Spiderman “bengong”. Pasalnya, Raimi sebelumnya lebih sering bermain di genre horor atau thriller.

Lalu, akan seperti apakah Spider-Man yang coba dimunculkan Marc Webb? Apakah sama dengan Spider-Man sebelumnya?

The Amazing Spiderman versi Marc Webb dibuka dengan latar belakang kenapa Peter Parker ditinggal orang tuanya dan tinggal dengan Bibi May (Selly Field) dan Paman Ben (Martin Sheen), hingga Peter Parker duduk di sekolah menengah tingkat atas.

Di tahapan ini, Marc Webb dan penulis skenario James Vanderbilt lebih menonjolkan sosok Peter Parker yang lebih pintar dan jenius dibanding Peter Parker versi Sam Raimi. Tentunya tetap dengan alur cerita menggemari fotografi.

Untuk membuat menarik, muncullah sosok Gwen Stacy (Emma Thompson) yang menjadi pacar Spider-Man sebelum Mary-Jane Watson, sosok perempuan pintar anak Kapten George Stacy (David Leary) yang menjabat kepala polisi New York.

Tak ada musuh utama tentu akan membuat film ini jadi “garing”. Maka dimunculkanlah The Lizzard sebagai tokoh antagonis yang menjadi lawan utama Spider-Man.

The Lizzard diperankan oleh Rhys Ifans yang dalam kesehariannya seorang ilmuwan ternama bernama Dr. Curt Connors. Tempat bekerja Dr. Curt Connors adalah Perusahaan Oscorp yang merupakan perusahaan dari Norman Osborn (kelak akan jadi lawan Spiderman dengan julukan Green Goblin).

Dalam The Amazing Spider-Man, Marc Webb tentu berpikir keras bagaimana menyaingi Spider-Man ala Sam Raimi yang telah terbukti sukses membuat jatuh cinta para pecinta Spider-Man. Marc Webb juga harus mampu menciptakan sosok baru Peter Parker.

Dari sisi penokohan Peter Parker, Marc Webb terlihat mencoba “patuh” pada pakem komik Spider-Man yang diciptakan Stan Lee. Sosok Peter Parker dibuat lebih pintar, jenius, humoris, berbeda dengan versi Sam Raimi yang lebih polos dan lebih “innocent”.

Sedang untuk karakter Spider-Man, Marc Webb menampilkan Spider-Man dalam balutan kostum baru yang lebih dinamis dengan perpaduan warna lebih kelam dibanding kostum yang dipakai Tobey Maguire.

Setelah karakterisasi selesai, Marc Webb juga membuat perbedaan dalam sisi yang kerap membuat penonton terkagum-kagum, apalagi kalau bukan action (aksi) melompat gedung.

Bisa dikatakan, Spider-man versi Marc Webb lebih entertaining dibanding aksi-aksi Spider-man versi Sam Raimi. Spider-Man milik Webb lebih lentur dan tampil dengan gaya yang berbeda. Di banyak adegan, Marc Webb mampu menghadirkan si manusia laba-laba begitu mirip dengan gambar-gambar yang ada di halaman komik Spider-Man.

Disinilah kelebihan sutradara Marc Webb dalam membesut kisah Spider-Man.

Hanya saja, Marc Webb sepertinya terhipnotis oleh gaya dan alur penceritaan dari tiga film Spider-Man sebelumnya. Beberapa pakem dan gaya bertutur The Amazing Spider-Man masih sama dengan film Spider-Man sebelumnya.

Mencuri perhatian adalah Rhys Ifans yang berperan sebagai The Lizzard/Dr. Curt Connors. Rhys Ifans tampil begitu “charming” dan memesona. Padahal, bukan tipe dan gaya Rhys Ifans memerankan seorang ilmuwan. Lihat saja aktingnya saat berperan sebagai Spike dalam film “Notting Hill”.

Anda yang ingin tahu seperti apa sosok legenda Stan Lee yang menciptakan begitu banyak super-hero dalam komik Marvell ikut hadir sebagai cameo. Tidak seperti kemunculan cameo dalam film-film hollywood kebanyakan, Stan Lee muncul di tengah satu adegan seru yang juga mengundang gelak tawa.

Secara keseluruhan, manusia Laba-laba versi Marc Webb tampil sebagai sosok yang lebih labil, ditambah adegan drama menyentuh, serta gaya konyol seorang Spider-man yang tetap membawa ransel sekolah meski sudah memakai kostum Spider-man. Tidak hanya itu, Spider-man yang masih ababil menunggu musuh dengan memanfaatkan fitur games pada sebuah telepon selular.

Acungan jempol juga dapat disematkan kepada composer James Horner yang mengisi scoring. Adegan Perkelahian di sebuah gang kumuh, menjadi begitu menarik dengan alunan komposisi musik yang begitu hidup. Scoring the Amazing Spider-Man jauh lebih hidup dibanding tiga film sebelumnya.

The Amazing Spider-Man sendiri menyisahkan satu adegan pendek yang muncul di akhir film. Pastikan anda jangan langsung beranjak ketika credit title muncul. Adegan tersebut bisa menjadi kunci petunjuk apabila film ini akan dibuat lanjutannya.

Adegan tersebut akan membuat anda menebak-nebak siapa yang muncul dalam film lanjutannya, apakah The Shadow atau si Green Goblin/ Norman Osborn ?

Selamat Menyaksikan.